Jumat, Januari 09, 2009

Kiat Praktis Jadi Penulis Fiksi mbak HELVY TR


Kiat Praktis Jadi Penulis Fiksi ;) mbak HELVY TR

Saya suka sekali mengatakan ini: menulis itu sama dengan bermain kungfu! Lho, apa hubungannya? Ya, kita tak akan pernah bisa bermain kungfu bila hanya menontonnya di bioskop dan televisi. Ibaratnya sampai botak sariawan kita pelototi Jet Li setiap hari, kita nggak akan bisa kungfu juga, apalagi sampai taraf mahir. Lalu bagaimana caranya? Tentu saja kita harus latihan kungfu dan agar mahir, kita harus berlatih sungguh-sungguh. Contoh yang lain, bisakah anda menjadi perenang andal tanpa pernah menyemplungkan diri hingga basah? Tentu tidak, begitu pula dengan menulis. Untuk bisa menjadi penulis, syarat utama tentu Anda harus menulis!

Banyak orang berkata: “Saya ingin jadi penulis! Sumpah!” Tetapi mereka malas membaca, malas untuk mulai menulis. Sampai kapan pun mereka tak akan jadi penulis. Padahal menulis adalah salah satu bentuk komunikasi dan refleksi kecendekiaan seseorang yang dibutuhkan dalam perkembangan orang itu sendiri dan masyarakatnya. Menurut James Peannebaker, menulis bisa menjadi terapi diri atau bahasa awamnya: menghilangkan stress! Dan menurut Abdurahman Faiz, menulis bisa membuatmu menolong orang lain!

Lantas adakah kiat praktis untuk menjadi penulis? Tentu saja ada!

1: Suka membaca

Membaca dan menulis mempunyai kaitan yang erat sekali. Untuk bisa menulis dibutuhkan wawasan yang memadai. Wawasan kita akan berkembang terutama bila kita banyak membaca. Muhammad Iqbal pernah menganjurkan kepada pemuda-pemudi Pakistan, agar dalam seminggu minimal mereka membaca lima buku. Bukan hanya membaca buku yang mereka minati atau sesuai dengan bidang yang mereka tekuni, tetapi juga membaca buku lain--- di luar minat dan bidang mereka. Ini belum termasuk koran dan majalah lho! Tak ada ruginya pula menyempatkan waktu membaca karya para pengarang ternama serta mempelajari apa kelebihan buku ciptaan mereka.

O ya, membaca yang saya maksud di sini juga berarti membaca apa saja, bukan terbatas pada buku. Bacalah diri, lingkungan, masyarakat, semesta, ini akan sangat membantu anda menjadi penulis yang peka.

2: Mencintai bahasa

Kita tak akan bisa lepas dari bahasa sepanjang hari, selama hidup kita. Bukan itu saja, kerap kali kadar intelektual seseorang diukur pula dari cara ia menggunakan bahasa. Jadi mengapa kita tak mencoba untuk senantiasa mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik? Bahkan tahukah anda, ternyata menyenangkan juga membuka-buka KUBI (kamus Umum Bahasa Indonesia). Di sana masih banyak kata yang jarang digunakan, padahal cukup indah dan bisa kita pakai untuk tulisan kita.

3: Menulis catatan harian

Mempunyai catatan harian dan menuliskan apa yang kita pikirkan, kita rasakan atau kita alami setiap hari di dalamnya menjadi latihan yang efektif bagi mereka yang ingin menjadi penulis. Bukan itu saja, siapa tahu kelak anda menjadi orang terkenal dan catatan harian anda dibukukan seperti Anne Frank! Sekarang bahkan anda bisa menulis catatan harian anda di blog, multiply, dan website pribadi anda. Mengapa tak memulainya?

4: Korespondensi

Sama dengan catatan harian, korespondensi juga menjadi latihan yang baik dan efektif. Kita akan terbiasa bercerita atau menuliskan gagasan yang mungkin akan didukung atau dibantah oleh ‘sahabat pena’ kita. Mau tidak mau hal tersebut membuat kita terpacu untuk lebih meningkatkan wawasan agar nyambung dengannya. Nah kalau merasa menulis surat via pos sekarang sudah tidak masanya, kita tetap bisa mengembangkan korespondensi ini melalui surat elektronik (e-mail). O ya, satu hal. Dulu saya selalu bertanya-tanya, mengapa Kartini begitu berarti bagi negeri ini, hingga hari kelahirannya diperingati setiap 21 April? Apa yang membuat dia lebih istimewa dari Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Rasuna Said atau Christina Martha Tiahahu? Apakah karena peran Kartini bagi pendidikan dan kebangkitan perempuan Indonesia? Saya kok ragu. Nama-nama yang saya sebut barusan juga tak kalah hebat. Lalu apa dong sebabnya? Baru kemudian saya tahu: salah satunya pasti karena Kartini menuliskan pikiran dan perjuangannya! Sedang pahlawan perempuan yang saya kagumi dan sebut namanya tadi, tidak. Meski hanya bermaksud korespondensi, akhirnya surat-surat Kartini bisa terbit dalam bentuk buku...

5: Latihan deskripsi dan imajinasi

Cobalah deskripsikan kamar Anda secara detil melalui tulisan. Mudahkah? Latihlah terus kemahiran itu dengan mencoba “melukiskan” ruangan, alam terbuka, orang, benda-benda sekitar dan lain sebagainya. Lalu kembangkan imajinasi Anda. Saat di pagi hari anda melihat seorang nenek tua menatap anda dari balik jendela rumahnya, anda bisa mulai bertanya-tanya dan menerka banyak kemungkinan. Siapa dia? Apa yang dia inginkan dari anda? Bahagiakah hidupnya? Apa ia punya rahasia masa lalu yang tragis? Kalau anda tulis, pertanyaan-pertanyaan itu akan menjelma jalinan cerpen atau novel deh!

6: Hobi meneliti dan berdiskusi

Menulis bukan melulu persoalan ketrampilan berbahasa. Tulisan bisa menjadi lebih berkualitas dengan penelitian. Penelitian sering membuat tulisan kita lebih ‘kaya,’ unik dan cerdas. Begitu pula dengan diskusi. Seringkali kita temukan hal-hal baru usai kita berdiskusi dengan seseorang. Kita pun bisa berlatih untuk mencoba menuliskan kembali apa saja yang kita diskusikan dengan teman kita, misalnya. Dan tiba-tiba, seperti habis membaca banyak buku, kita akan merasa semakin ‘kaya.’


7. Publikasikan karya Anda!

Banyak orang merasa malu dan ragu mempublikasikan karya mereka di media massa dengan alasan baru pemula atau takut karyanya dikritik sebagai karya yang tak bermutu. Akhirnya karya-karya tersebut hanya ditumpuk dalam laci atau disimpan dalam folder entah sampai kapan. Cobalah untuk lebih pede mengirimkannya, tapi tetap dengan mental yang siap bila karya itu tak dimuat. Kadang kita selalu merasa karya yang kita tulis itu buruk, amit-amit lah pokoknya. Tapi bisa jadi pembaca justru merasa sebaliknya. Boleh juga kita minta beberapa teman dekat yang senang mengapresiasi untuk membaca karya tersebut sebelum kita kirimkan--- kalau memang belum terlalu pede untuk langsung mengirimkan setelah kita menuliskannya. Nah agar bisa cepat menerbitkan buku, salah satu caranya adalah dengan meminta semacam kata pengantar dari penulis atau pengamat sastra terkemuka, misalnya. Atau paling tidak meminta semacam endorsmen (komentar di belakang buku). Penerbit yang kita tuju pun menjadi lebih yakin pada kita...


Demikian beberapa kiat yang perlu kita coba untuk bisa menjadi penulis yang baik. Tak perlu terlalu resah dengan kata ‘bakat’. Bila anda merasa tak berbakat, anda tetap bisa menjadi penulis hebat, asal punya tekad dan terus latihan. Mochtar Lubis bilang, hanya diperlukan 10% bakat dan 90 % tekad serta latihan untuk menjadi penulis yang sukses. Jadi, selamat menulis ya!





O, Ilham! Jan 29, '05 9:07 AM
for everyone



Belum lama ini saya pulang dari Bontang dan Tenggarong, Kalimantan Timur. Saya diundang FLP Cabang Bontang dan Tenggarong, untuk diskusi dan memberi pelatihan tentang menulis khususnya bagi para pelajar SMP dan SMU.

Dari semua yang menyangkut penulisan, ternyata ilham paling banyak ditanyakan oleh calon-calon penulis muda tersebut. Nah, saya pun kemudian mencoba mengidentifikasi si ilham yang sangat terkenal itu secara sederhana, seperti di bawah ini.

1. Apakah ilham itu?
Ilham berarti juga ide, gagasan, inspirasi yang menjadi awal dan spirit dari karya kita. Menurut pengarang Aoh K. Hadimadja, sumber ilham yang utama adalah masyarakat dan Tuhan. Pada dasarnya ilham sangat berserakan di bumi dan menunggu kita memungutinya.

2. Kapan ilham datang?
Ilham bisa datang kapan saja. Saat kita sedang berbelanja di pasar, sedang belajar di sekolah, sedang menatap setangkai bunga, sedang di atas bis kota, terjebak dalam tawuran dan lain-lain. Saat kita sedang sedih, marah, gembira dan sebagainya.

3. Di mana ilham datang?
Merujuk pertanyaan nomor 2, maka ilham bisa datang di mana saja. Di rumah, di taman, di kendaraan, di dalam sebuah seminar, bahkan saat seseorang kerampokan misalnya, dll.

4.. Darimana datangnya ilham?
Ilham pun bisa datang dari mana saja. Menurut saya kalau kita ringkas ia bisa datang dari 7 “di” plus, yaitu dari sesuatu yang dilihat, didengar, diceritakan, dibaca, ditonton, dialami, dirasakan, dimimpikan dan “di” lainnya. Karena begitu luasnya daerah pengarang maka jiwa kepengarangan harus hidup untuk memperhatikan segala yang bisa ditangkap dengan panca indera.
Ilham sering datang tak terduga dan seorang pengarang harus selalu siap untuk menangkapnya..

5. Bagaimana cara mendatangkan ilham?
Seperti yang telah dikatakan di atas, ilham kadang datang begitu saja, namun sering kali harus diupayakan bahkan menurut Chairil Anwar, “harus dipaksa” kehadirannya. Bagaimana cara mengupayakan atau memancing datangnya ilham?
Menurut Chairil Anwar lagi, ilham yang bisa datang kapan dan di mana saja tanpa kita duga, hanya bisa ditangkap dengan “kekayaan jiwa”. Menurutnya cara memperkaya jiwa itu banyak, misalnya dengan membaca karya para pengarang ternama, memperhatikan alam sekitar, mengingat dan mengambil hikmah dari pengalaman pribadi maupun orang lain dan sebagainya. Proses memperkaya jiwa ini sering kali menjadi gerbang pula bagi kedatangan ilham yang baru pula.

6. Apa yang harus dilakukan ketika ilham datang?
Pengarang ternama seperti Mochtar Lubis atau Kuntowijoyo selalu membawa catatan kemana pun mereka pergi. Hal tersebut untuk berjaga-jaga bila tiba-tiba ilham menghampiri mereka. Sekonyong-konyong bila ilham itu datang mereka lekas-lekas mencatatnya karena khawatir ilham itu pergi begitu saja dari ingatan mereka.

Setelah sampai di rumah, dalam keadaan yang lebih memungkinkan biasanya mereka langsung mengolah ilham tersebut, menuliskannya dan jadilah sebuah karya. Kalau ada yang belum sempat atau belum bisa dituangkan akan mereka simpan di “laci ilham.” “Laci ilham” bagi saya adalah sebuah folder khusus ide dan bagi Kuntowijoyo adalah “ibu” dari buku kecil, yaitu “buku besar” yang bisa mencatat ide yang semakin berkembang.

7. Bagaimana menuangkan ilham menjadi sebuah tulisan?
Proses menuangkan ilham menjadi sebuah tulisan antara seorang pengarang dengan pengarang lainnya sering kali berbeda.. Hal tersebut sangat berkaitan dengan wawasan (yang juga merupakan akumulasi dari proses “pengayaan’ pikiran dan jiwa) pengarang itu sendiri. Yang saya maksud dengan wawasan di sini adalah ilmu dan pengetahuan mengenai berbagai hal, termasuk mengenai topik apa yang akan ditulis dan wawasan mengenai teknik mengarang.

8. Bagaimana bila ilham tak kunjung bisa dituangkan?
Diendapkan saja dulu. Yang penting sudah kita catat. Kelak ketika kita buka “laci ilham” pada waktu berikutnya ia akan muncul kembali. Bisa juga bila kita buat kerangka lebih dulu (terutama bagi penulis pemula) sebagai bentuk pengembangan ilham sekaligus pengembangan cerita. Atau mengapa tidak mencari tempat yang nyaman untuk menulis agar ilham yang sudah ada dapat mengalir lebih lancar? Kadang faktor tempat juga bisa sangat menentukan. Tempat yang sunyi dan tenang misalnya, membuat saya lebih lancar menuliskan semua ide saya tinimbang tempat yang ramai dan dipenuhi musik. Tapi bisa jadi sebaliknya bagi pengarang lainnya.

Nah selamat berakrab-akrab dengan ilham!

(HTR)

Tidak ada komentar:

 

ShoutMix chat widget