Rabu, Maret 05, 2008

Apa itu ilham?


Belum lama ini saya pulang dari Bontang dan Tenggarong, Kalimantan Timur. Saya diundang FLP Cabang Bontang dan Tenggarong, untuk diskusi dan memberi pelatihan tentang menulis khususnya bagi para pelajar SMP dan SMU.

Dari semua yang menyangkut penulisan, ternyata ilham paling banyak ditanyakan oleh calon-calon penulis muda tersebut. Nah, saya pun kemudian mencoba mengidentifikasi si ilham yang sangat terkenal itu secara sederhana, seperti di bawah ini.

1. Apakah ilham itu?
Ilham berarti juga ide, gagasan, inspirasi yang menjadi awal dan spirit dari karya kita. Menurut pengarang Aoh K. Hadimadja, sumber ilham yang utama adalah masyarakat dan Tuhan. Pada dasarnya ilham sangat berserakan di bumi dan menunggu kita memungutinya.

2. Kapan ilham datang?
Ilham bisa datang kapan saja. Saat kita sedang berbelanja di pasar, sedang belajar di sekolah, sedang menatap setangkai bunga, sedang di atas bis kota, terjebak dalam tawuran dan lain-lain. Saat kita sedang sedih, marah, gembira dan sebagainya.

3. Di mana ilham datang?
Merujuk pertanyaan nomor 2, maka ilham bisa datang di mana saja. Di rumah, di taman, di kendaraan, di dalam sebuah seminar, bahkan saat seseorang kerampokan misalnya, dll.

4.. Darimana datangnya ilham?
Ilham pun bisa datang dari mana saja. Menurut saya kalau kita ringkas ia bisa datang dari 7 “di” plus, yaitu dari sesuatu yang dilihat, didengar, diceritakan, dibaca, ditonton, dialami, dirasakan, dimimpikan dan “di” lainnya. Karena begitu luasnya daerah pengarang maka jiwa kepengarangan harus hidup untuk memperhatikan segala yang bisa ditangkap dengan panca indera.
Ilham sering datang tak terduga dan seorang pengarang harus selalu siap untuk menangkapnya..

5. Bagaimana cara mendatangkan ilham?
Seperti yang telah dikatakan di atas, ilham kadang datang begitu saja, namun sering kali harus diupayakan bahkan menurut Chairil Anwar, “harus dipaksa” kehadirannya. Bagaimana cara mengupayakan atau memancing datangnya ilham?
Menurut Chairil Anwar lagi, ilham yang bisa datang kapan dan di mana saja tanpa kita duga, hanya bisa ditangkap dengan “kekayaan jiwa”. Menurutnya cara memperkaya jiwa itu banyak, misalnya dengan membaca karya para pengarang ternama, memperhatikan alam sekitar, mengingat dan mengambil hikmah dari pengalaman pribadi maupun orang lain dan sebagainya. Proses memperkaya jiwa ini sering kali menjadi gerbang pula bagi kedatangan ilham yang baru pula.

6. Apa yang harus dilakukan ketika ilham datang?
Pengarang ternama seperti Mochtar Lubis atau Kuntowijoyo selalu membawa catatan kemana pun mereka pergi. Hal tersebut untuk berjaga-jaga bila tiba-tiba ilham menghampiri mereka. Sekonyong-konyong bila ilham itu datang mereka lekas-lekas mencatatnya karena khawatir ilham itu pergi begitu saja dari ingatan mereka.

Setelah sampai di rumah, dalam keadaan yang lebih memungkinkan biasanya mereka langsung mengolah ilham tersebut, menuliskannya dan jadilah sebuah karya. Kalau ada yang belum sempat atau belum bisa dituangkan akan mereka simpan di “laci ilham.” “Laci ilham” bagi saya adalah sebuah folder khusus ide dan bagi Kuntowijoyo adalah “ibu” dari buku kecil, yaitu “buku besar” yang bisa mencatat ide yang semakin berkembang.

7. Bagaimana menuangkan ilham menjadi sebuah tulisan?
Proses menuangkan ilham menjadi sebuah tulisan antara seorang pengarang dengan pengarang lainnya sering kali berbeda.. Hal tersebut sangat berkaitan dengan wawasan (yang juga merupakan akumulasi dari proses “pengayaan’ pikiran dan jiwa) pengarang itu sendiri. Yang saya maksud dengan wawasan di sini adalah ilmu dan pengetahuan mengenai berbagai hal, termasuk mengenai topik apa yang akan ditulis dan wawasan mengenai teknik mengarang.

8. Bagaimana bila ilham tak kunjung bisa dituangkan?
Diendapkan saja dulu. Yang penting sudah kita catat. Kelak ketika kita buka “laci ilham” pada waktu berikutnya ia akan muncul kembali. Bisa juga bila kita buat kerangka lebih dulu (terutama bagi penulis pemula) sebagai bentuk pengembangan ilham sekaligus pengembangan cerita. Atau mengapa tidak mencari tempat yang nyaman untuk menulis agar ilham yang sudah ada dapat mengalir lebih lancar? Kadang faktor tempat juga bisa sangat menentukan. Tempat yang sunyi dan tenang misalnya, membuat saya lebih lancar menuliskan semua ide saya tinimbang tempat yang ramai dan dipenuhi musik. Tapi bisa jadi sebaliknya bagi pengarang lainnya.

Nah selamat berakrab-akrab dengan ilham!

(HTR)

Tidak ada komentar:

 

ShoutMix chat widget