Selasa, Maret 18, 2008

BAGAIMANA MEMBANGKITKAN POTENSI MENULIS ANDA

BAGAIMANA MEMBANGKITKAN POTENSI MENULIS ANDA


Sebelum kita jauh membicarakan bagaimana cara membangkitkan potensi menulis, alangkah baiknya bila kita terlebih dahulu mengungkap hal apa saja yang membuat orang enggan untuk menulis.Baiklah kita mulai saja.

Faktor Yang Menyebabkan Orang Enggan Untuk Menulis

Pertama, anggapan banyak orang bahwa menulis adalah suatu hal yang genetis, artinya seorang penulis terlahir dari keluarga penulis, betulkah?.
Kedua, belum fahamnya akan manfaat menulis, masyarakat awam menilai kegiatan menulis haruslah dari kalangan yang intelektualnya tinggi atau orang yang sudah bergelar sarjana. Kegiatan menulis juga masih terasa ‘wah’ bagi masyarakat golongan ekonomi mengengah – kebawah, terasa bahwa kegiatan menulis harus dengan seperangkat elektronik canggih seperti laptop atau PDA (Portable Data Acces) yang tersambung internet nirkabel –seperti yang tergambarkan di tayangan sinetron televisi – dengan akses cepat dan sang penulis memiliki life style seperti artis, benarkah sosok seorang penulis harus seperti ini?.
Ketiga, minimnya minat baca. Hal ini dapat kita lihat dengan begitu sepinya perpustakaan – perpustakaan dan toko – toko buku dari pengunjungnya. Padahal kedua tempat ini merupakan rantai kehidupan sebuah buku. Minimnya minat baca ini berbanding lurus dengan kualitas rata – rata SDM (Sumber Daya Manusia) kita. Maka jangan pernah menyalahkan kalau kita hanya bisa mengekspor pembantu dan malah mengimpor “sesuatu”yang sebenarnya dapat diproduksi di negeri sendiri. Lantas bagaimana meningkatkan minat baca masyarakat kita?.
Keempat, kurangnya pendalaman dalam proses pembelajaran dibidang menulis. Kegiatan menulis hanyalah suatu bagian dari KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) yang dilaksanakan hanya untuk merampungkan program pengajaran tanpa proses pemaknaan yang mendalam dan terus menerus. Bisa kita bayangkan, betapa sangat mustahil kita akan menghasilkan generasi penulis “sekelas” Habiburrahman El Shirazy, kalau kita tidak menulis, Tidak menjadi contoh bagi generasi muda dan tidak peduli untuk membantu mereka menggali potensi menulisnya. Bagaimana cara memperbaiki kelemahan ini?

Membangkitkan Potensi Menulis

Sebagai insan yang cerdas, kita tidak boleh larut dalam masalah, tetapi kita harus berfikir optimal untuk menemukan solusinya. Ingatlah orang yang paling dicintai Allah dan rasulnya adalah orang yang paling banyak berbuat kebaikan dimuka bumi ini.
Ada beberapa hal yang – insyaallah – dapat membangkitkan potensi diri untuk bersegera menulis!, beberapa hal itu yaitu :

Pertama, yakinilah bahwa kita semua bisa jadi penulis. Bukti yang hakiki adalah bahwa manusia adalah mahluk yang diciptakan sebaik – baik ciptaan. Kita dibekali dengan kecerdasan yang unik. Tidak ada manusia yang sama walau kembar identik sekalipun. Inilah “modal pertama” seorang penulis yang sesunguhnya dimiliki setiap manusia.
Menulis adalah sebuah keterampilan, yang diperlukan adalah tekad dan latihan, latihan serta latihan. Yakinilah bahwa anda bisa menelurkan karya yang hebat, yakinilah sekali lagi bahwa apa yang anda tuliskan akan memberi makna bahwa anda pernah ada di muka bumi ini, yakinlah tulisan anda mencerminkan kepribadian anda, tulisan anda adalah unik dan berkarakter.
Menulis itu sama dengan bemain Kung Fu! Lho, apa hubungannya?Ya, kita tak akan pernah bisa bermain Kung Fu bila hanya menontonnya di bioskop dan TV. Ibaratnya sampai “botak sariawan” kita pelototi Jet Li setiap hari, kita nggak akan bisa Kung Fu juga, apalagi sampai taraf mahir.

Mochtar Lubis pernah berkata bahwa hanya diperlukan 10 % bakat dan 90 % tekad serta latihan untuk menjadi seorang penulis yang sukses.

“Menulis itu bisa bikin kaya!”, kata Helvy Tianna Rosa –penggagas berdirinya FLP (Forum Lingkar Pena)-.

Kedua, memahami manfaat menulis. AMBAK (Apa Manfaat Bagi Aku dan Kamu), begitulah kata pakar menyatakan bahwa kita memang harus tahu manfaat dari apa yang kita kerjakan, apapun itu, termasuk didalamnya kegiatan menulis. Memahami apa yang kita lakukan merupakan bentuk kesadaran diri yang akan melejitkan kecerdasan –kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk mencapai target yang telah ditentukan. Tanpa target hidup ini tidak menantang!.
Dalam beberapa artikel dan buku, banyak terungkap tentang manfaat dari kegiatan menulis dan keharusan mendalaminya. Berikut pemaparan dari ahli psikolinguistik, psikolog sampai penulis muda.

“Menulis bisa menjadi terapi diri – atau bahasa awamnya: menghilangkan stress!-“
James Peannebaker (ahli psiklinguistik)
“Seorang mukmin, harus sama baiknya antara membaca dan menulis”
Hasan Al-Banna ( pendekiawan muslim )
“Karya kita adalah sebuah jejak nyata yang bisa kita tinggalkan pada dunia saat kitakelak dipanggil Allah”
Helvy Tianna Rosa ( penulis )
“Menulislah!, maka kamu akan awet muda, kulit lebih kencang dan hitam di kantung mata akan hilang”
Fatimah M ( psikolog dan penulis )
“Menulis membuatmu bisa menolong orang lain”
Abdurrahman Faiz ( penulis )
“Menulislah, dan bebaskan dirimu dan pembacanya !”
Adzzaka Pena ( penulis )

Ada nilai plus dari sebuah karya tulis yang dibukukan, yaitu merupakan sarana belajar yang mungkin, hingga akhir jaman, tak akan tergantikan oleh sarana belajar yang lainnya. Buku juga mudah digunakan karena tidak memerlukan listrik dan dapat dibaca dimana pun. Disamping itu, lewat buku, tak sedikit orang namanya terus “hidup” sepanjang jaman dan dikenang oleh masyarakat masa depan.
Nilai plus menulis lainnya dapat kita bandingkan dengan budaya oral dalam bentuk orasi, ceramah, atau khotbah. Orasi yang menggebu –gebu mungkin bisa “membakar” dalam suasana yang penuh emosional pada saat yang bersamaan. Tapi ketika pulang kerumah masing – masing kembali pada aktivitasnya dan segera terlupakan kembali. Jadi pesan lewat oral, nafasnya tidak panjang, sebatas jarak podium ke rumah.
Berbeda dengan budaya tulis, karya tulis kita akan dibaca sepuluh, seratus, seribu, ratusan ribu bahkan berjuta pasang mata manusia dari generasi yang berbeda.
Lihatlah betapa karya Al-Ghazali (1058 – 1111 M ). Karya legendarisnya “Ihya Ulumuddin” dan “Bidayatul Hidayah”, sampai sekarang masih dicari dan dibaca orang. Selain itu menulis juga dapat menampakkan karakter diri sehingga kita bisa lebih mengenal dan memahami diri.
Orang yang mengenal dirinya tentu mengenal tuhannya (Ali.R.A)


Ketiga, banyak membaca. Dengan membaca, wawasan kita menjadi bertambah
luas dan kita menjadi bijak. Hal ini sangat menenentukan kualitas karya kita nantinya,
soalnya setelah “proses pengendapan” apa yang kita baca bisa muncul dan
memperkaya kita. Bukankah kita harus memberi wawasan pada pembaca karya kita.
Membaca disini bukan terbatas pada buku. Bacalah diri, lingkungan,
masyarakat, semesta. Ini akan sangat membantu kita menjadi penulis yang peka.
Menurut ahli Linguistik, Dr.Stephen D.Krashen, “ Orang – orang yang banyak membaca dengan perasaan riang akan mendapatkan -secara tidak sengaja dan tanpa
usaha yang dilakukan secara sadar –“ keterampilan kebahasaan” dalam bentuk
mendapatkan banyak kosa kata, mengembangkan gaya penulisan yang bagus dan
menjadi pengeja yang hebat (walaupun tidak sempurna).
Jangan mau disebut kutu buku, soalnya kutu itukan kecil dan nempel di buku ;-)Jadilah predator buku!
Ada beberapa manfaat buku, yaitu :
Mengolahragakan saraf –sarafotak agar terus “bergerak”.
Menyuplai “gizi ruhani”.
Menjadi cermin jiwa/ batin.
Membagikan pengalaman berharga.
Merekan momen – momen kehidupan yang bermakna.
Perkayalah diri kita dengan membaca buku sebanyak – banyaknya, baik itu buku yang berkaitan ataupun yang tidak berkaitan dengan bidang disiplin ilmu kita.

Keempat,
perlunya pembelajaran sepanjang hayat dalam menekuni bidang menulis, untuk membuat karya best seller, kita harus belajar, belajar dan belajar. Sehingga karya kita enak “dikunyah”, mengalir dan menggerakkan pembaca.



Ada beberapa cara untuk membiasakan menulis. Beberapa cara untuk memulainya adalah :
1. belajar mengalir
Membiasakan diri menulis setiap hari. Apa saja yang kamu tulis? Apa saja, ikutilah pikiran dan perasaanmu. Apa saja, yang ada dikepala dan hati kamu, langsung kamu keluarkan dan tuangkan dalam catatan harian.
Medium catatan harian ini pun tidak hanya kertas – lebih “ramah” gunakan kertas – kertas bekas dan di bentuk menjadi sebuah buku -, bisa berbentuk apa saja. Pokoknya setiap ada sesuatu yang berkelebat sangat cepat di kepala, kita langsung mengeluarkan dalam bentuk catatan – catatan yang tidak beraturan. Alirkan kata – kata itu secara bebas dan spontan.
Syarat menulis yang mengalir sangat menyenangkan.
a. Kita perlu spontan dalam mengalirkan kata – kata.
b. Bebas, tidak perlu dipikirkan hasilnya dan tidak perlu memikirkan orang lain.
Gunakan bahasa semau anda, semua yang anda tulis itu benar – benar milik anda.
Anda boleh memperlakukan sekehendak hati anda, alirkan dan alirkan dalam kebebasan.
c. Cobalah lakukan menulis catatan harian tersebut setiap hari atau sesering mungkin
apabila anda ingin menjadi penulis buku yang mengalir.
Asal “proses mengalir” itu dilakukan secara rutin dan sesering mungkin, anda sudah dapat dicalonkan menjadi penulis yang dapat membuat buku yang mengalir. Ini bukan untuk menyenagkan hati anda, ini sungguh – sungguh sesuatu yang serius.
Sebagaimana kata Stephen King “Apabila anda ingin jadi penulis hebat, menulislah dengan tidak meremehkan tentang apa yang anda tulis”.
2. Bergabunglah dengan komunitas kepenulisan.
Bergabung dengan komunitas yang intens pada dunia menulis seperti FLP ( Forum Lingkar Pena), atau anda dan teman – teman yang sama – sama berkeinginan untuk menjadi penulis, bisa membuat komunitas sendiri –misalnya : KOTAKACA (KOmuniTAs KArya – baCA)-.
Manfaat bergabung dengan komunitas yang memiliki kesamaan tujuan – menulis- :
Saling memotivasi dan mengembangkan potensi menulis
Saling bertukar informasi dan buku seputar dunia baca – tulis
Bersama – sama melakukan kritik sastra – kelebihan dan kekurangan – pada hasil tulisan anggota komunitas atau dari sumber lainnya – majalah, e-book, internet dll-.
3. Publikasikan karya anda.
Banyak orang merasa malu dan ragu mempublikasikan karya mereka dengan alasan baru pemula atau takut karyanya dikritik dan dikatakan tidak bermutu.
Akhirnya karya – karya anda hanya ditumpuk dalam laci atau dismpan dalam folder yang entah sampai kapan.
Cobalah untuk lebih pede mengirimkannya, tapi tetap dengan mental yang siap bila karya kita tidak dimuat. Kadang kita selalu merasa karya kita buruk, tapi bisa jadi pembaca justru sebaliknya.
Boleh juga kita minta beberapa teman dekat yang senang mengapresiasi untuk membaca karya kita sebelum dikirim.
Untuk latihan publikasikan saja tulisanmu di mading, buletin, milis, blog, multiply, website pribadi anda, dan undang teman – teman virtual untuk memberikan masukan yang konstruktif.


Akhirnya, hanyalah sebuah asa, semogalah tulisan ini memberi sinyal, pertanda bahwa siapun anda yang sedang membaca tulisan ini, memiliki potensi luar biasa untuk menulis!.
Saran saya perbanyaklah membaca dan mengoleksi buku, sisihkan dana anda setiap bulan untuk membeli buku dan anda ciptakan sebuah pustaka pribadi anda, dengan begitu anda akan mensinergikan kegiatan baca – tulis yang akan mengantar anda pada satu titik : penulis best seller.
Selamat menulis!
Hidup penulis!


Wassalam,


Muhammad anhar
( NIM :061234055 )
mail to :
beneranada@Gmail.com
blog :http://anharonline.blogspot.com


Tidak ada komentar:

 

ShoutMix chat widget