Ada lebih banyak harta yang terkandung di dalam buku ketimbang seluruh jarahan bajak laut yang disimpan di Pulau Harta.
WALT DISNEY
Senin, 24 Mei 2004, pukul 09.30 WIB, usai mengajar sesi pertama matakuliah "Digesting" di STIKOM (Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi), Bandung, saya didekati seorang mahasiswa yang pernah menjadi murid saya pada tahun ajaran lalu. Dia bercerita kepada saya tentang komunitas membaca yang didirikan bersama teman-temannya di STIKOM. Dalam cerita itu terkandung maksud untuk menyampaikan kenyataan bahwa betapa sulitnya mengajak para mahasiswa untuk antusias membaca dan kemudian mendiskusikan buku.
Setelah saya bertanya sedikit tentang komunitas membaca bentukannya tersebut, saya menyampaikan pemikiran saya bahwa sebaiknya komunitas tersebut jangan mendiskusikan buku. Saya menganjurkan untuk mendiskusikan saja secara rutin problem-problem tentang membaca buku yang ada di masyarakat atau, lebih khusus, di lingkungan kampus. Buatlah diskusi yang santai, yang sedikit menyenangkan, bagaikan sedang mengobrol. Dan bicarakan secara luas masalah tersebut dari pelbagai sudut pandang.
Saya katakan pula kepada sang mahasiswa itu bahwa mendiskusikan buku sudah dipersepsi berat dan, bahkan, mungkin, "membebani" oleh beberapa kalangan masyarakat kita. Kita juga mesti sadar bahwa kehidupan masyarakat kita saat ini sudah berat. Ada banyak persoalan negara yang belum juga terselesaikan. Konflik-konflik di tengah masyarakat masih mungkin terjadi. Korupsi juga belum nampak akan tuntas dibereskan dalam waktu dekat. Apalagi masalah yang berkaitan dengan pendidikan.
Jadi, apakah mungkin para mahasiswa itu—dalam keadaan pendidikan yang "runyam" seperti ini—mau dan mampu diajak membaca buku dan mendiskusikannya? "Tapi, Pak, kan membaca buku itu penting dan merupakan ‘nyawa’ pendidikan?" sela sang mahasiswa. "Semua orang tentulah sudah tahu soal yang kamu sampaikan ini," jawab saya kalem. Memang, mustahil penyelenggaraan pendidikan dapat berlangsung lancar dan efektif tanpa buku yang dibaca secara habis-habisan oleh baik dosen maupun mahasiswanya. Namun, apakah kita dapat melihat para dosen, di kampus-kampus, yang membaca buku-buku yang kaya dan luas?
Apakah para dosen, di kampus-kampus kita, benar-benar mencontohkan kepada para mahasiswanya, tentang bagaimana asyiknya mengunjungi perpustakaan dan berjam-jam melibatkan diri dengan buku-buku baru yang datang silih berganti? Apakah para dosen tersebut dapat mendemonstrasikan penguasaannya atas sebuah buku, lantas kemudian mengajak para anak didiknya untuk berdiskusi secara menggairahkan dan menyenangkan tentang buku-buku baru?
Karena sang mahasiswa yang saya ajak bicara hanya diam termangu, saya pun terus mengguyurnya dengan persoalan-persoalan baru seputar membaca buku. Di samping sulitnya kita menemukan dosen di kampus yang dapat kita jadikan teladan membaca buku, kita juga direpotkan dengan buku-buku yang beredar di masyarakat luas, lebih-lebih buku-buku yang beredar di kampus-kampus. Menurut pengamatan saya, tak sedikit buku-buku yang sulit dibaca oleh para pembacanya.
Saya biasa merumuskan buku-buku yang sulit dibaca tersebut sebagai buku yang kekurangan, atau bahkan tak memiliki sama sekali, "gizi". Bahkan, saya juga menemukan buku-buku yang bukan hanya kekurangan "gizi", melainkan juga di dalam buku tersebut berisi racun. Nyawa buku itu terletak pada susunan kalimatnya. Mustahil kita dapat memahami apa yang dikandung oleh sebuah buku apabila kalimat-kalimat yang ada di dalam buku tersebut berantakan atau sulit dicerna.
Bagi saya, buku-buku yang tidak ditulis dengan kaidah penalaran (reasoning) yang sehat dan diksi yang akurat-hebat, serta tanpa koherensi (kaitan) antarparagraf yang mengalir, adalah buku-buku yang dapat meracuni pembacanya. Bagaimana efek racun yang dikandung buku terhadap pembaca? Bisa jadi, seseorang itu lantas ngantuk dan malas membaca buku. Atau, di lain waktu, dia sudah menghabiskan berjam-jam untuk memahami sebuah buku namun dia merasa tidak mampu membaca buku tersebut. Padahal yang salah bukanlah si pembaca, melainkan si pengarang buku yang menyusun bukunya dengan kalimat-kalimat sulit.
"Pak," sela sang mahasiswa agak kesal, "lantas apa yang dapat kita lakukan? Apakah Bapak akan membiarkan itu semua berjalan dan tanpa ada proses perbaikan? Apakah Bapak punya tip-tip untuk mengatasi persoalan lemahnya masyarakat kita membaca buku?" Saya jelas punya cara mengatasi persoalan itu. Bahkan saya sebenarnya yakin bahwa masyarakat kita, terutama para mahasiswa, punya potensi membaca buku. Hanya, mereka tidak tahu saja cara membangkitkan potensi tersebut dan menggunakannya secara efektif.
Berikut tiga contoh saya tentang cara mengatasi persoalan tersebut:
Pertama, sekarang ini telah ditemukan cara-cara membaca yang disesuaikan dengan cara bekerjanya otak kita. Membaca dapat bersuara dan dapat berjalan-jalan. Kenapa bersuara? Karena telinga-lahir dapat membantu mencerna kata-kata. Dan dengan membaca bersuara, kita dapat mendeteksi sebuah kalimat itu disusun dengan benar atau tidak. Kenapa berjalan ketika membaca buku? Ini agar otak tidak beku. Dengan berjalan-jalan, otak pun bergerak dan akan tahan mencerna kalimat yang sulit.
Kedua, ada buku-buku yang beredar di tengah masyarakat yang sudah "dikemas" dengan cara-cara yang berbeda. Misalnya, ada buku yang mengklaim bahwa bukunya dapat merangsang penggunaan otak kiri dan otak kanan sekaligus. Atau ada buku tentang manajemen yang ditulis dengan gaya cerita pendek. Dan ada juga buku setebal 500-an halaman lebih yang dapat dibaca (dipahami) dalam tempo 15 hingga 30 menit!
Ketiga, jalankan kegiatan membaca buku dengan kegiatan menulis secara bersamaan. Apa yang ditulis? Yang ditulis adalah hasil-hasil pembacaan atas sebuah buku. Bagaimana kalau nggak ada yang bisa ditulis? Artinya kegiatan membaca buku tersebut tidak memberdayakan diri si pembaca, atau buku yang dibaca sebenarnya bukan buku yang memiliki "gizi". Dengan menjalankan secara bersamaan kegiatan baca-tulis berbasis buku, insya Allah motivasi untuk membaca buku (dan bahkan menulis) juga dapat terus dipelihara dan ditingkatkan secara perlahan-lahan.
Tentu, masih ada banyak cara untuk mengatasi solusi lemahnya (jika memang ada) minat baca (dan mungkin juga semangat menulis) masyarakat kita. Namun, saya khawatir, semakin banyak cara yang saya sampaikan, semakin bingung kita melaksanakannya. Sebab membaca dan menulis adalah semacam keterampilan (saya lebih suka menyebutnya sebagai "keprigelan"). Untuk memiliki "keprigelan", maka sekadar tahu (to know) saja belum cukup. Kita harus to do (menerapkan secara konkret pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari) dan to be (menjadikan pengetahuan dan keprigelan itu menyatu dengan diri kita).
Nah, untuk dapat mengubah diri kita agar mau dan mampu membaca, tentu pembiasaan menjadi sangat penting. Oleh sebab itu, saya biasa menganjurkan siapa saja untuk memiliki buku harian (diary). Bayangkan jika diary kita itu isinya adalah—selain tentang "curhat"—tulisan-tulisan yang membicarakan materi buku yang kita baca. Tentu, diri kita akan diperkaya dengan ilmu dan juga kita akan memiliki "otot-otot" menulis yang lemas dan siap kita pakai untuk, kelak, menulis paper ataupun skripsi.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar