Kamis, Maret 27, 2008

me are you fit ?

pesan untuk diri yang :-(

hari hari yag cukup berat, kuingin berubah!!!!!!
berubah!!
berubah!!
"orang yang tidak melakukan apa-apa takkan dapatkan apa apa"
jangan takut allah takkan beri cobaan yang hambanya tak sanggup memikulnya.

hadapi dengan cerdas, benahi niat
kumpulkan ilmunya, betindak efektif dan cerdas

maaf kan aku, itulah yang selalu berdengung, kurasa begitu bersalah, padaNYA & pada mereka yang merasa aku adakah orang yg pantes jadi ideal models men, aku gerah dengan hal yang kulakukan ini, kurasakan begitu menyiksa , apakah ini akan berakhir?, aku yakin akan!!
aku ingin mengakhirinya dengan indah, tanpa melukai siapapun lagi, kucoba, yah kucoba!
tadi malam aku menagis melihat kebelakang dosa2ku , ku seperti berasa ditebing yang tinggal sedikit lagi aku akan masuk ke dalam lembahnya yang menya;la merah!!!
pada temanku itu, kurasa aku hanya bisa bercerita disini, lewat blog ini, hanya kamu yang merasakannya khan?.
biarlah rasa itu tumbuh, karena itu fitrah, tetapi kuakui ini tak benar, biarlah waktu menjawab, masih banyak tangungjawab pada "MASA" kedepan, Allah, rasulullah, ibu, ayah, saudaramu, para alim ulama, mereka menunggu...
kuharap inilah pengobat rasa ini, kuakui tak dapat hilang, biarlah temaran ini muncul di gelap saja, jangan tersibak di mentari yang akan menimbulkan gersang dan dahaga kita dan yang lainnya

Sabtu, Maret 22, 2008

selalu berBAGI

 sudahkah anda berbagi ?
orang yang beriman adalah orang yang selalu memikirkan orang lain"



berbagi, berbagi, berbagi..!!!!


anda bukanlah orang hebat bila anda hanyalah seorang yang tidak memberi, tidak berbagi !
anda pintar, kaya, merasa sukses tapi tangan anda selalu dibawah, hmm... selalu minta diberi -uang, penghormatan, sanjungan -.
anda hanya akan sukses bila ada keseiringan antara apa yang anda ucapkan dan langkah anda, ada keseimbangan antara niat anda dengan aksi, 
jangan biarkan setitik ilmu anda hanya anda nikmati sendiri, sungguh sayang dan betapa zalimnya diri anda bila ini anda lakukan.
resapilah uluran tangan anda , sekecil apapun yang anda tuangkan dalam kanvas dunia ini, ini mengandung sebuah makna dan daya ubah pada diri dan sejumlah manusia.
sekarang anda hanyalah akan merasakan apa yang telah anda tebar, itulah diri anda, anda bahagia ?, sedih ? itu yang  anda miliki dan usahlah lara dan duka bila anda belum bisa menyebarkan banyak manfaat dengan ke'inginan' untuk berbagi, berbagi dan berbagi
tak peduli apa kata orang, ikhlaslah dan harapkan diri kepada Allah,

berbagi bikin hidup lebih hidup;-) 

Selasa, Maret 18, 2008

BAGAIMANA MEMBANGKITKAN POTENSI MENULIS ANDA

BAGAIMANA MEMBANGKITKAN POTENSI MENULIS ANDA


Sebelum kita jauh membicarakan bagaimana cara membangkitkan potensi menulis, alangkah baiknya bila kita terlebih dahulu mengungkap hal apa saja yang membuat orang enggan untuk menulis.Baiklah kita mulai saja.

Faktor Yang Menyebabkan Orang Enggan Untuk Menulis

Pertama, anggapan banyak orang bahwa menulis adalah suatu hal yang genetis, artinya seorang penulis terlahir dari keluarga penulis, betulkah?.
Kedua, belum fahamnya akan manfaat menulis, masyarakat awam menilai kegiatan menulis haruslah dari kalangan yang intelektualnya tinggi atau orang yang sudah bergelar sarjana. Kegiatan menulis juga masih terasa ‘wah’ bagi masyarakat golongan ekonomi mengengah – kebawah, terasa bahwa kegiatan menulis harus dengan seperangkat elektronik canggih seperti laptop atau PDA (Portable Data Acces) yang tersambung internet nirkabel –seperti yang tergambarkan di tayangan sinetron televisi – dengan akses cepat dan sang penulis memiliki life style seperti artis, benarkah sosok seorang penulis harus seperti ini?.
Ketiga, minimnya minat baca. Hal ini dapat kita lihat dengan begitu sepinya perpustakaan – perpustakaan dan toko – toko buku dari pengunjungnya. Padahal kedua tempat ini merupakan rantai kehidupan sebuah buku. Minimnya minat baca ini berbanding lurus dengan kualitas rata – rata SDM (Sumber Daya Manusia) kita. Maka jangan pernah menyalahkan kalau kita hanya bisa mengekspor pembantu dan malah mengimpor “sesuatu”yang sebenarnya dapat diproduksi di negeri sendiri. Lantas bagaimana meningkatkan minat baca masyarakat kita?.
Keempat, kurangnya pendalaman dalam proses pembelajaran dibidang menulis. Kegiatan menulis hanyalah suatu bagian dari KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) yang dilaksanakan hanya untuk merampungkan program pengajaran tanpa proses pemaknaan yang mendalam dan terus menerus. Bisa kita bayangkan, betapa sangat mustahil kita akan menghasilkan generasi penulis “sekelas” Habiburrahman El Shirazy, kalau kita tidak menulis, Tidak menjadi contoh bagi generasi muda dan tidak peduli untuk membantu mereka menggali potensi menulisnya. Bagaimana cara memperbaiki kelemahan ini?

Membangkitkan Potensi Menulis

Sebagai insan yang cerdas, kita tidak boleh larut dalam masalah, tetapi kita harus berfikir optimal untuk menemukan solusinya. Ingatlah orang yang paling dicintai Allah dan rasulnya adalah orang yang paling banyak berbuat kebaikan dimuka bumi ini.
Ada beberapa hal yang – insyaallah – dapat membangkitkan potensi diri untuk bersegera menulis!, beberapa hal itu yaitu :

Pertama, yakinilah bahwa kita semua bisa jadi penulis. Bukti yang hakiki adalah bahwa manusia adalah mahluk yang diciptakan sebaik – baik ciptaan. Kita dibekali dengan kecerdasan yang unik. Tidak ada manusia yang sama walau kembar identik sekalipun. Inilah “modal pertama” seorang penulis yang sesunguhnya dimiliki setiap manusia.
Menulis adalah sebuah keterampilan, yang diperlukan adalah tekad dan latihan, latihan serta latihan. Yakinilah bahwa anda bisa menelurkan karya yang hebat, yakinilah sekali lagi bahwa apa yang anda tuliskan akan memberi makna bahwa anda pernah ada di muka bumi ini, yakinlah tulisan anda mencerminkan kepribadian anda, tulisan anda adalah unik dan berkarakter.
Menulis itu sama dengan bemain Kung Fu! Lho, apa hubungannya?Ya, kita tak akan pernah bisa bermain Kung Fu bila hanya menontonnya di bioskop dan TV. Ibaratnya sampai “botak sariawan” kita pelototi Jet Li setiap hari, kita nggak akan bisa Kung Fu juga, apalagi sampai taraf mahir.

Mochtar Lubis pernah berkata bahwa hanya diperlukan 10 % bakat dan 90 % tekad serta latihan untuk menjadi seorang penulis yang sukses.

“Menulis itu bisa bikin kaya!”, kata Helvy Tianna Rosa –penggagas berdirinya FLP (Forum Lingkar Pena)-.

Kedua, memahami manfaat menulis. AMBAK (Apa Manfaat Bagi Aku dan Kamu), begitulah kata pakar menyatakan bahwa kita memang harus tahu manfaat dari apa yang kita kerjakan, apapun itu, termasuk didalamnya kegiatan menulis. Memahami apa yang kita lakukan merupakan bentuk kesadaran diri yang akan melejitkan kecerdasan –kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk mencapai target yang telah ditentukan. Tanpa target hidup ini tidak menantang!.
Dalam beberapa artikel dan buku, banyak terungkap tentang manfaat dari kegiatan menulis dan keharusan mendalaminya. Berikut pemaparan dari ahli psikolinguistik, psikolog sampai penulis muda.

“Menulis bisa menjadi terapi diri – atau bahasa awamnya: menghilangkan stress!-“
James Peannebaker (ahli psiklinguistik)
“Seorang mukmin, harus sama baiknya antara membaca dan menulis”
Hasan Al-Banna ( pendekiawan muslim )
“Karya kita adalah sebuah jejak nyata yang bisa kita tinggalkan pada dunia saat kitakelak dipanggil Allah”
Helvy Tianna Rosa ( penulis )
“Menulislah!, maka kamu akan awet muda, kulit lebih kencang dan hitam di kantung mata akan hilang”
Fatimah M ( psikolog dan penulis )
“Menulis membuatmu bisa menolong orang lain”
Abdurrahman Faiz ( penulis )
“Menulislah, dan bebaskan dirimu dan pembacanya !”
Adzzaka Pena ( penulis )

Ada nilai plus dari sebuah karya tulis yang dibukukan, yaitu merupakan sarana belajar yang mungkin, hingga akhir jaman, tak akan tergantikan oleh sarana belajar yang lainnya. Buku juga mudah digunakan karena tidak memerlukan listrik dan dapat dibaca dimana pun. Disamping itu, lewat buku, tak sedikit orang namanya terus “hidup” sepanjang jaman dan dikenang oleh masyarakat masa depan.
Nilai plus menulis lainnya dapat kita bandingkan dengan budaya oral dalam bentuk orasi, ceramah, atau khotbah. Orasi yang menggebu –gebu mungkin bisa “membakar” dalam suasana yang penuh emosional pada saat yang bersamaan. Tapi ketika pulang kerumah masing – masing kembali pada aktivitasnya dan segera terlupakan kembali. Jadi pesan lewat oral, nafasnya tidak panjang, sebatas jarak podium ke rumah.
Berbeda dengan budaya tulis, karya tulis kita akan dibaca sepuluh, seratus, seribu, ratusan ribu bahkan berjuta pasang mata manusia dari generasi yang berbeda.
Lihatlah betapa karya Al-Ghazali (1058 – 1111 M ). Karya legendarisnya “Ihya Ulumuddin” dan “Bidayatul Hidayah”, sampai sekarang masih dicari dan dibaca orang. Selain itu menulis juga dapat menampakkan karakter diri sehingga kita bisa lebih mengenal dan memahami diri.
Orang yang mengenal dirinya tentu mengenal tuhannya (Ali.R.A)


Ketiga, banyak membaca. Dengan membaca, wawasan kita menjadi bertambah
luas dan kita menjadi bijak. Hal ini sangat menenentukan kualitas karya kita nantinya,
soalnya setelah “proses pengendapan” apa yang kita baca bisa muncul dan
memperkaya kita. Bukankah kita harus memberi wawasan pada pembaca karya kita.
Membaca disini bukan terbatas pada buku. Bacalah diri, lingkungan,
masyarakat, semesta. Ini akan sangat membantu kita menjadi penulis yang peka.
Menurut ahli Linguistik, Dr.Stephen D.Krashen, “ Orang – orang yang banyak membaca dengan perasaan riang akan mendapatkan -secara tidak sengaja dan tanpa
usaha yang dilakukan secara sadar –“ keterampilan kebahasaan” dalam bentuk
mendapatkan banyak kosa kata, mengembangkan gaya penulisan yang bagus dan
menjadi pengeja yang hebat (walaupun tidak sempurna).
Jangan mau disebut kutu buku, soalnya kutu itukan kecil dan nempel di buku ;-)Jadilah predator buku!
Ada beberapa manfaat buku, yaitu :
Mengolahragakan saraf –sarafotak agar terus “bergerak”.
Menyuplai “gizi ruhani”.
Menjadi cermin jiwa/ batin.
Membagikan pengalaman berharga.
Merekan momen – momen kehidupan yang bermakna.
Perkayalah diri kita dengan membaca buku sebanyak – banyaknya, baik itu buku yang berkaitan ataupun yang tidak berkaitan dengan bidang disiplin ilmu kita.

Keempat,
perlunya pembelajaran sepanjang hayat dalam menekuni bidang menulis, untuk membuat karya best seller, kita harus belajar, belajar dan belajar. Sehingga karya kita enak “dikunyah”, mengalir dan menggerakkan pembaca.



Ada beberapa cara untuk membiasakan menulis. Beberapa cara untuk memulainya adalah :
1. belajar mengalir
Membiasakan diri menulis setiap hari. Apa saja yang kamu tulis? Apa saja, ikutilah pikiran dan perasaanmu. Apa saja, yang ada dikepala dan hati kamu, langsung kamu keluarkan dan tuangkan dalam catatan harian.
Medium catatan harian ini pun tidak hanya kertas – lebih “ramah” gunakan kertas – kertas bekas dan di bentuk menjadi sebuah buku -, bisa berbentuk apa saja. Pokoknya setiap ada sesuatu yang berkelebat sangat cepat di kepala, kita langsung mengeluarkan dalam bentuk catatan – catatan yang tidak beraturan. Alirkan kata – kata itu secara bebas dan spontan.
Syarat menulis yang mengalir sangat menyenangkan.
a. Kita perlu spontan dalam mengalirkan kata – kata.
b. Bebas, tidak perlu dipikirkan hasilnya dan tidak perlu memikirkan orang lain.
Gunakan bahasa semau anda, semua yang anda tulis itu benar – benar milik anda.
Anda boleh memperlakukan sekehendak hati anda, alirkan dan alirkan dalam kebebasan.
c. Cobalah lakukan menulis catatan harian tersebut setiap hari atau sesering mungkin
apabila anda ingin menjadi penulis buku yang mengalir.
Asal “proses mengalir” itu dilakukan secara rutin dan sesering mungkin, anda sudah dapat dicalonkan menjadi penulis yang dapat membuat buku yang mengalir. Ini bukan untuk menyenagkan hati anda, ini sungguh – sungguh sesuatu yang serius.
Sebagaimana kata Stephen King “Apabila anda ingin jadi penulis hebat, menulislah dengan tidak meremehkan tentang apa yang anda tulis”.
2. Bergabunglah dengan komunitas kepenulisan.
Bergabung dengan komunitas yang intens pada dunia menulis seperti FLP ( Forum Lingkar Pena), atau anda dan teman – teman yang sama – sama berkeinginan untuk menjadi penulis, bisa membuat komunitas sendiri –misalnya : KOTAKACA (KOmuniTAs KArya – baCA)-.
Manfaat bergabung dengan komunitas yang memiliki kesamaan tujuan – menulis- :
Saling memotivasi dan mengembangkan potensi menulis
Saling bertukar informasi dan buku seputar dunia baca – tulis
Bersama – sama melakukan kritik sastra – kelebihan dan kekurangan – pada hasil tulisan anggota komunitas atau dari sumber lainnya – majalah, e-book, internet dll-.
3. Publikasikan karya anda.
Banyak orang merasa malu dan ragu mempublikasikan karya mereka dengan alasan baru pemula atau takut karyanya dikritik dan dikatakan tidak bermutu.
Akhirnya karya – karya anda hanya ditumpuk dalam laci atau dismpan dalam folder yang entah sampai kapan.
Cobalah untuk lebih pede mengirimkannya, tapi tetap dengan mental yang siap bila karya kita tidak dimuat. Kadang kita selalu merasa karya kita buruk, tapi bisa jadi pembaca justru sebaliknya.
Boleh juga kita minta beberapa teman dekat yang senang mengapresiasi untuk membaca karya kita sebelum dikirim.
Untuk latihan publikasikan saja tulisanmu di mading, buletin, milis, blog, multiply, website pribadi anda, dan undang teman – teman virtual untuk memberikan masukan yang konstruktif.


Akhirnya, hanyalah sebuah asa, semogalah tulisan ini memberi sinyal, pertanda bahwa siapun anda yang sedang membaca tulisan ini, memiliki potensi luar biasa untuk menulis!.
Saran saya perbanyaklah membaca dan mengoleksi buku, sisihkan dana anda setiap bulan untuk membeli buku dan anda ciptakan sebuah pustaka pribadi anda, dengan begitu anda akan mensinergikan kegiatan baca – tulis yang akan mengantar anda pada satu titik : penulis best seller.
Selamat menulis!
Hidup penulis!


Wassalam,


Muhammad anhar
( NIM :061234055 )
mail to :
beneranada@Gmail.com
blog :http://anharonline.blogspot.com


Kamis, Maret 13, 2008

kamis ini, eugh ;-/

lelah, mengeluh bukanlah jalan yang terbaik disini, mungkin hanyalah keinginan untuk menyibak sebuah makna yang terkadang, dan kini menghujam rasa ini, kutak tahu mengapa aku sampai jauh kesana, apa aku tak takut untuk kecewa yang kedua kalinya, euh mungkin kini aku hanyalah kering yang tertamak dalam kerendahan asa, ini karena aku dalam kelelahan iman ni, ya rab, apa yang kulakukan kini, kurasa dan kuharap selalu selalu benar dalam pandanganmu,
kuingin menjelma dalam bentuk yang jernih dan menjadi cahaya yang walau setitik dapat berarti dan membuatku bermakna didunia ini.
kelelahanku cukup terobati sejakku rutin makan habbatussauda, sebuah obat2 an yang dianjurkan rasulullah untuk kita, ini juga sunnah khan?.

A.K.U
meyibak kesepian yang menghampar indah
ia menjelma membuatku takut
resah, gundah meradangku, perih...
kususur pipiku, penuh darah
aku lelah ...
aku...
takut...
mati...
tapi, maya kuterbang sementara dalam senja
keheningan menyapa, keriuh rendahan
memang aku berada dimana?
disurga atau dineraka___>
tatapan itu mengingatkan ku,
ya... rabb ampuni hamba :=-[

Rabu, Maret 12, 2008

sebelas!

sebelas, wuih gila bisa dibilang lho!, seorang dosen MKK mengundangku dateng kerumahnya, whats up?, ternyata doski sedang ngerampungin desertasinya, well ampe' jam 9 malem, aq disana tentunya setelah aku lihat ada yang menemaniku, yup adik dosen itu bersama.
malam yang begitu larut dan pekat, ditemani mendung, membuatku harus kuatin nyali, apalagi kudu bawa kendaraan dosen itu.
ya sudah bismilah aku bawa aja, entaran gimananlah gitu,
fuih hari yang melelahkan dengan asa semoga apa yang kuperbuat hari ini, dengan kejujuran, berfikir +, spirit selalu berbagi, dan ikhlas plus jihad motivation -insyaallah-tetep ngedon di dalem orang yang lemah ini, insyaallah do'akan aQ yach!! ;-). bee ken an,

Kamis, Maret 06, 2008

ungkapan hati


Mengalir on write :try on kompie , ungkapan hati


Apa yang ingin kutulis, kini aku terhadap pada sebuah kompie yang menatapku dengan wajah yang maya, just gw yang bisa bayangin deh. mungkinkah aku bisa menulis , begitulah dalam benak ini, ternyata seorang penulis yang hebat diawali dari waktu kecilnya, gimana nih aw kan baru2 aja belajar nyeerpen, walau dengan ghiroh yang agak melempem, aku masih sadar bahwa aku punya bakat nyerpen, buktinya aku bisa nulis cerpen-baca:presiden bukan pesinden- tapi itu kering bgt, dan jujur ini karya yang menurutku paling pas untuk dipublikasikan, walaupun dengan raa yang entah apa, aku yakini bahwa ini tak sempurna, btw ini adalah awal saudaraku, mungkin banyak teman gak tahu aq seorang cerpenis yang nguasain teknologi, ehm... tapi ini gak cukup, ide selanjutnya buat cerpen bareng teman2 dibukuin dan klo pribadi aq pengen bgt nulis NOVEL do'ain ya saudara, oh ya aw dalam dekat pengen nulis ttg yang berhubungan dengan kompie en internet -media ini-.
JEJAK YANG DAPAT KITA TINGGALKAN UNTUK INSAN MASA DEPAN ADALAH KARYA KITA : BUKU.
DAKWAH YANG PALING NGE-LONG BGT PAHALANYE ADALAH YANG -SALAH SATUNYA- ILMUNYA YANG DIMANFAATIN UNTUK DIBAGIKAN PADA ORANG, LEWAT APA :BUKU.
SO, GAK ADA ALASAN NULIS,
NYERPEN BOLEH, NGESAI BOLJUG TUH:-)

JADI PENULIS;
HIDUP KAYA
MATI -INSYAALLAH-SYURGA

HIDUP PENULIS

PRESIDEN BUKAN PESINDEN(cerpen)

PRESIDEN BUKAN PESINDEN

by: M.Anhar

Salat maghrib baru saja kelar. Setelah wiridan beberapa saat, satu persatu jemaah meninggalkan mesjid AT-TAQWA. Termasuk fahad yang buru – buru mencari sendal jepitnya.“had..!, had..!” sosok pemuda setengah baya menghampirinya “ ada apa mas rino..?” Tanya fahad sambil menahan sesuatu “ nanti kerumah pak yon, remaja mesjid diundang beliau buat ngadain syukuran” “ oh, acara khitanan anaknya, ya..?”
mas rino mengangguk
“ jangan lupa ajak anak – anak yang lain”
“ ber.. ber… insyaalah mas..!”
sebetulnya fahad buru – buru pulang usai solat maghrib karena sudah tidak kuat menahan penderitan perutnya yang belum juga damai, aman dan sentosa. Ia masih bolak balik membuang amunisi H2SO4 yang terkenal seantero dunia.
Ini semua gara – gara diajak ali dan bana nonton bola bareng penghuni kompleks teratai putih di lapangan bola kaki dekat rumahnya. Sudah hujan gerimis, alas yang disediakan Cuma selembar tikar tipis ditambah lagi minuman dingin yang disediakan sponsor. Mubazir dan kehausan kalau nggak diminum, mulesin perut kalau disedot, duuuh bak makan buah semangka eh simalakama .
Ditengah perjalanan pulang fahad seperti tentara yang berada dimedan perang, karena pengeboman dapat terjadi kapan saja dan dimana saja dengan siaga ia melihat kanan – kiri takut pengeboman dicium dan didengar orang – orang yang tak berdosa.
Sesampai dirumah rupanya keadaan semakin gawat. Baso yang dilahapnya rupanya mengandung amunisi lain yang maha dasyat dan menyebabkannya harus menduduki benteng pertahanan terakhir. Buru – buru dia melepmar sarung dan melesat ke WC.
BUKA…!, BUKA..!, TOLONG..BAHAYA..!!”, teriak fahad menggedor pintu
“SIAPA SIH DIDALEM..?, NGAK TAU ORANG UDAH..NGAK KUAAAAT..!
umi dan sora melongok melihat kebisingan itu.
“harap tenang ya” ujar sora
“kata abi pintu kamar mandi macet, had , Ummi sudah coba buka pakai kunci tapi belum bisa juga ..!”, jelas umi.
OHH.., jangan sekarang..!” fahad histeris pengen teriak tapi ditahannya takut pengeboman terjadi diluar sasaran.
“gimana nih..!,aku…. Ngak!, ku…aaat!”
“nih, kata abi kalau terdesak pakai ini..!”, sora menyodorkan linggis
“GUEBRAK ..!! GLOTAK..!, BLAAR….!!”, sebentar saja pintu kamar mandi terhempas dari engselnya.
“mi…, tolong jagain pintunya, plis..!”,pinta fahad. Tanpa menunggu jawaban ia langsung nyemplak menduduki benteng pertahanan yang dirindukannya.
“ini semua gara – gara kakak..!”, sungut fahad
“lho, kok kak sora yang disalahin had..?” bela sora
“ lha, siapa yang naruh cabe ijo secentong ke mangkuk baso..?”
“siapa yang nyosor aja tanpa pandang bulu. Itukan baso jatah abi yang tahan pedes..!” “iya, tapi kok nggak dibilang dari awal..!”, semprot fahad
“hihi..hihi.., mungkin kelaperan banget lo had..!”, seru suara dari depan
“hei, siapa itu..?”, cari fahad
“ si bana dan dina, katanya remaja ada undangan..”, ujar ummi
“mana mereka..?”,Tanya fahad
“ diteras , umi suruh tunggu”
“ya salam..!”, gimana nih, perang diperutku bisa meletus kapan saja bisa berabe kalau peperangan terjadi diluar kendali. Bisa banyak makan korban..!”, batinya.
“kakak pokoknya harus tanggung jawab ..!”, semprot fahad .
“kakak harus gantikan aku kerumah pak yon”
“pak yon..? memang mau ngapain had..?”
“kita diundang syukuran anaknya yang di khitan”, jelasnya
“gimana mi..?, boleh sora yang pergi..?”, sora minta pendapat
“ya sudah sora, sana gih. Hati – hati ya”, ujar umi
selang lima menit sora , eddy dan dina sudah ngumpul dirumah pak yon yang sudah ramai didatangi remaja lainnya.
Acara selesai menjelang isya’, sora dan remaja lainnya pamitan pulang. Seraya menyalami empu rumah.
Sesampainya sora dirumah tercinta. fahad masih pasang muka juteknya. Abi yang mendengar cerita sora tertawa geli. Fahad yang lagi anteng – anteng dimuka tvmerasa mules lagi. Kontan ia melesat melanjutkan perang yang belum juga mencapai titik damai. abi dan sora tidak bisa menahan tawanya. Umi pasang muka prihatin.
“biarin, entar orang yang dzolim bakalan dapet balesan..!”, sungut fahad sebelum ngibrit ke WC.
“bi, kasihan si fahad, entar kenapa – kenapa lagi..!”, ujar sora
“tunggu saja, kita lihat reaksinya nanti..!”, ujar abi
“bi, tolongin fahad deh, status siaga satu nih ..!”, ujar fahad memelas.
“oke deh!,obatnya abi letakkan diatas laci video”
usai meminum obat, fahad ngelanjutin nontonnya.
“ pemilu lagi rame – ramenya nih..!”,serunya
“ iya , dan janji lagi, janji lagi .., basi dong..!” ujar sora keki
“ sebenarnya oke saja kalau apa yang mereka janjikan itu sudah menjadi kebiasaan mereka. Ini malah sebaliknya , tukang korup janjinya memberantas korupsi, ya nggak bakal jalan programnya..!”, papar abi
“ iya, ya.., fahad jadi miris nih, apakah ada calon pemimpin seperti rasulullah atau setidaknya sekelas khalifah abu, ali,umar,dan usman.
“ berdo’alah dalam setiap terjagamu, semoga ALLAH mengabulkannya untukmu”, ujar sora
“untuk kita dan bansa ini juga dong nak..!”, umi menambah
“ yah , mungkin kita harus menunggu hingga saatnya nanti..!”, ujar abi
“ sampai kapan bi..?”, sora dan fahad penasaran
“ sampai ajaran islam dijalankan sepenuhnya disetiap sisi kehidupan kita. Seyogyanya dalam segala aspek kita bakalan ketemu dengan peraturan yang bersyaiatkan islam” jelas abi.
“hmm.., begitu jauh berbeda dengan kondisi saat ini dong..?”, ujar fahad
“ iya, ya had..!, jadi bakalan lama dong syariat islam menjadi pondasi negri ini..!”, ujar sora
“ yah, makanya kita harus mulai sedini mungkin untuk mendalami agama secara kaffah nak!”, nasehat umi.
“Apa mi..,mendlaami islam secara kaf … kaffah ..?, apaan artinya sih..?” Tanya fahad
“artinya mendalami islam secara menyeluruh, iyakan mi..?”,ujar sora
“iya benar..!” sambut umi
“jadi fahad milih siapa dong bi...? Tanya fahad sambil menunjuk photo calon capres dan cawapres di iklan tv.
“iya ,bingung deh kayaknya”, sora menambah
“nggak usah bingung, yang terpenting dan menjadi nomor satu sebagai bahan pertimbangan untuk kita adalah memilih yang benar – benar mukmin sejati. Selanjutnya kita lihat track recordnya selama sepuluh tahun terakhir, bagaimana..?,setuju nggak nih..?” jelas abi.
“ fahad dan sora maggut – manggut tanda setuju.
“dan jangan salah pilih..!, pilih presiden jangan pesinden..!”, ujar umi seraya beranjak menutup pintu depan.
Malam semakin larut . rembulan samar menampakkan dirinya.seekor punguk hingap dipohon kering menyongsong mangsanya . Udara malam yang dingin menusuk tubuh siapa saja yang keluar menembus malam. Diskusi dirumah itu masih terdengar walau malam sudah selimuti sebagian orang sampai pagi menjelang.


Kiat Praktis Jadi Penulis Fiksi ;)

Kiat Praktis Jadi Penulis Fiksi ;)

Saya suka sekali mengatakan ini: menulis itu sama dengan bermain kungfu! Lho, apa hubungannya? Ya, kita tak akan pernah bisa bermain kungfu bila hanya menontonnya di bioskop dan televisi. Ibaratnya sampai botak sariawan kita pelototi Jet Li setiap hari, kita nggak akan bisa kungfu juga, apalagi sampai taraf mahir. Lalu bagaimana caranya? Tentu saja kita harus latihan kungfu dan agar mahir, kita harus berlatih sungguh-sungguh. Contoh yang lain, bisakah anda menjadi perenang andal tanpa pernah menyemplungkan diri hingga basah? Tentu tidak, begitu pula dengan menulis. Untuk bisa menjadi penulis, syarat utama tentu Anda harus menulis!

Banyak orang berkata: “Saya ingin jadi penulis! Sumpah!” Tetapi mereka malas membaca, malas untuk mulai menulis. Sampai kapan pun mereka tak akan jadi penulis. Padahal menulis adalah salah satu bentuk komunikasi dan refleksi kecendekiaan seseorang yang dibutuhkan dalam perkembangan orang itu sendiri dan masyarakatnya. Menurut James Peannebaker, menulis bisa menjadi terapi diri atau bahasa awamnya: menghilangkan stress! Dan menurut Abdurahman Faiz, menulis bisa membuatmu menolong orang lain!

Lantas adakah kiat praktis untuk menjadi penulis? Tentu saja ada!

1: Suka membaca

Membaca dan menulis mempunyai kaitan yang erat sekali. Untuk bisa menulis dibutuhkan wawasan yang memadai. Wawasan kita akan berkembang terutama bila kita banyak membaca. Muhammad Iqbal pernah menganjurkan kepada pemuda-pemudi Pakistan, agar dalam seminggu minimal mereka membaca lima buku. Bukan hanya membaca buku yang mereka minati atau sesuai dengan bidang yang mereka tekuni, tetapi juga membaca buku lain--- di luar minat dan bidang mereka. Ini belum termasuk koran dan majalah lho! Tak ada ruginya pula menyempatkan waktu membaca karya para pengarang ternama serta mempelajari apa kelebihan buku ciptaan mereka.

O ya, membaca yang saya maksud di sini juga berarti membaca apa saja, bukan terbatas pada buku. Bacalah diri, lingkungan, masyarakat, semesta, ini akan sangat membantu anda menjadi penulis yang peka.

2: Mencintai bahasa

Kita tak akan bisa lepas dari bahasa sepanjang hari, selama hidup kita. Bukan itu saja, kerap kali kadar intelektual seseorang diukur pula dari cara ia menggunakan bahasa. Jadi mengapa kita tak mencoba untuk senantiasa mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik? Bahkan tahukah anda, ternyata menyenangkan juga membuka-buka KUBI (kamus Umum Bahasa Indonesia). Di sana masih banyak kata yang jarang digunakan, padahal cukup indah dan bisa kita pakai untuk tulisan kita.

3: Menulis catatan harian

Mempunyai catatan harian dan menuliskan apa yang kita pikirkan, kita rasakan atau kita alami setiap hari di dalamnya menjadi latihan yang efektif bagi mereka yang ingin menjadi penulis. Bukan itu saja, siapa tahu kelak anda menjadi orang terkenal dan catatan harian anda dibukukan seperti Anne Frank! Sekarang bahkan anda bisa menulis catatan harian anda di blog, multiply, dan website pribadi anda. Mengapa tak memulainya?

4: Korespondensi

Sama dengan catatan harian, korespondensi juga menjadi latihan yang baik dan efektif. Kita akan terbiasa bercerita atau menuliskan gagasan yang mungkin akan didukung atau dibantah oleh ‘sahabat pena’ kita. Mau tidak mau hal tersebut membuat kita terpacu untuk lebih meningkatkan wawasan agar nyambung dengannya. Nah kalau merasa menulis surat via pos sekarang sudah tidak masanya, kita tetap bisa mengembangkan korespondensi ini melalui surat elektronik (e-mail). O ya, satu hal. Dulu saya selalu bertanya-tanya, mengapa Kartini begitu berarti bagi negeri ini, hingga hari kelahirannya diperingati setiap 21 April? Apa yang membuat dia lebih istimewa dari Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Rasuna Said atau Christina Martha Tiahahu? Apakah karena peran Kartini bagi pendidikan dan kebangkitan perempuan Indonesia? Saya kok ragu. Nama-nama yang saya sebut barusan juga tak kalah hebat. Lalu apa dong sebabnya? Baru kemudian saya tahu: salah satunya pasti karena Kartini menuliskan pikiran dan perjuangannya! Sedang pahlawan perempuan yang saya kagumi dan sebut namanya tadi, tidak. Meski hanya bermaksud korespondensi, akhirnya surat-surat Kartini bisa terbit dalam bentuk buku...

5: Latihan deskripsi dan imajinasi

Cobalah deskripsikan kamar Anda secara detil melalui tulisan. Mudahkah? Latihlah terus kemahiran itu dengan mencoba “melukiskan” ruangan, alam terbuka, orang, benda-benda sekitar dan lain sebagainya. Lalu kembangkan imajinasi Anda. Saat di pagi hari anda melihat seorang nenek tua menatap anda dari balik jendela rumahnya, anda bisa mulai bertanya-tanya dan menerka banyak kemungkinan. Siapa dia? Apa yang dia inginkan dari anda? Bahagiakah hidupnya? Apa ia punya rahasia masa lalu yang tragis? Kalau anda tulis, pertanyaan-pertanyaan itu akan menjelma jalinan cerpen atau novel deh!

6: Hobi meneliti dan berdiskusi

Menulis bukan melulu persoalan ketrampilan berbahasa. Tulisan bisa menjadi lebih berkualitas dengan penelitian. Penelitian sering membuat tulisan kita lebih ‘kaya,’ unik dan cerdas. Begitu pula dengan diskusi. Seringkali kita temukan hal-hal baru usai kita berdiskusi dengan seseorang. Kita pun bisa berlatih untuk mencoba menuliskan kembali apa saja yang kita diskusikan dengan teman kita, misalnya. Dan tiba-tiba, seperti habis membaca banyak buku, kita akan merasa semakin ‘kaya.’


7. Publikasikan karya Anda!

Banyak orang merasa malu dan ragu mempublikasikan karya mereka di media massa dengan alasan baru pemula atau takut karyanya dikritik sebagai karya yang tak bermutu. Akhirnya karya-karya tersebut hanya ditumpuk dalam laci atau disimpan dalam folder entah sampai kapan. Cobalah untuk lebih pede mengirimkannya, tapi tetap dengan mental yang siap bila karya itu tak dimuat. Kadang kita selalu merasa karya yang kita tulis itu buruk, amit-amit lah pokoknya. Tapi bisa jadi pembaca justru merasa sebaliknya. Boleh juga kita minta beberapa teman dekat yang senang mengapresiasi untuk membaca karya tersebut sebelum kita kirimkan--- kalau memang belum terlalu pede untuk langsung mengirimkan setelah kita menuliskannya. Nah agar bisa cepat menerbitkan buku, salah satu caranya adalah dengan meminta semacam kata pengantar dari penulis atau pengamat sastra terkemuka, misalnya. Atau paling tidak meminta semacam endorsmen (komentar di belakang buku). Penerbit yang kita tuju pun menjadi lebih yakin pada kita...


Demikian beberapa kiat yang perlu kita coba untuk bisa menjadi penulis yang baik. Tak perlu terlalu resah dengan kata ‘bakat’. Bila anda merasa tak berbakat, anda tetap bisa menjadi penulis hebat, asal punya tekad dan terus latihan. Mochtar Lubis bilang, hanya diperlukan 10% bakat dan 90 % tekad serta latihan untuk menjadi penulis yang sukses. Jadi, selamat menulis ya!


Rabu, Maret 05, 2008

Apa itu ilham?


Belum lama ini saya pulang dari Bontang dan Tenggarong, Kalimantan Timur. Saya diundang FLP Cabang Bontang dan Tenggarong, untuk diskusi dan memberi pelatihan tentang menulis khususnya bagi para pelajar SMP dan SMU.

Dari semua yang menyangkut penulisan, ternyata ilham paling banyak ditanyakan oleh calon-calon penulis muda tersebut. Nah, saya pun kemudian mencoba mengidentifikasi si ilham yang sangat terkenal itu secara sederhana, seperti di bawah ini.

1. Apakah ilham itu?
Ilham berarti juga ide, gagasan, inspirasi yang menjadi awal dan spirit dari karya kita. Menurut pengarang Aoh K. Hadimadja, sumber ilham yang utama adalah masyarakat dan Tuhan. Pada dasarnya ilham sangat berserakan di bumi dan menunggu kita memungutinya.

2. Kapan ilham datang?
Ilham bisa datang kapan saja. Saat kita sedang berbelanja di pasar, sedang belajar di sekolah, sedang menatap setangkai bunga, sedang di atas bis kota, terjebak dalam tawuran dan lain-lain. Saat kita sedang sedih, marah, gembira dan sebagainya.

3. Di mana ilham datang?
Merujuk pertanyaan nomor 2, maka ilham bisa datang di mana saja. Di rumah, di taman, di kendaraan, di dalam sebuah seminar, bahkan saat seseorang kerampokan misalnya, dll.

4.. Darimana datangnya ilham?
Ilham pun bisa datang dari mana saja. Menurut saya kalau kita ringkas ia bisa datang dari 7 “di” plus, yaitu dari sesuatu yang dilihat, didengar, diceritakan, dibaca, ditonton, dialami, dirasakan, dimimpikan dan “di” lainnya. Karena begitu luasnya daerah pengarang maka jiwa kepengarangan harus hidup untuk memperhatikan segala yang bisa ditangkap dengan panca indera.
Ilham sering datang tak terduga dan seorang pengarang harus selalu siap untuk menangkapnya..

5. Bagaimana cara mendatangkan ilham?
Seperti yang telah dikatakan di atas, ilham kadang datang begitu saja, namun sering kali harus diupayakan bahkan menurut Chairil Anwar, “harus dipaksa” kehadirannya. Bagaimana cara mengupayakan atau memancing datangnya ilham?
Menurut Chairil Anwar lagi, ilham yang bisa datang kapan dan di mana saja tanpa kita duga, hanya bisa ditangkap dengan “kekayaan jiwa”. Menurutnya cara memperkaya jiwa itu banyak, misalnya dengan membaca karya para pengarang ternama, memperhatikan alam sekitar, mengingat dan mengambil hikmah dari pengalaman pribadi maupun orang lain dan sebagainya. Proses memperkaya jiwa ini sering kali menjadi gerbang pula bagi kedatangan ilham yang baru pula.

6. Apa yang harus dilakukan ketika ilham datang?
Pengarang ternama seperti Mochtar Lubis atau Kuntowijoyo selalu membawa catatan kemana pun mereka pergi. Hal tersebut untuk berjaga-jaga bila tiba-tiba ilham menghampiri mereka. Sekonyong-konyong bila ilham itu datang mereka lekas-lekas mencatatnya karena khawatir ilham itu pergi begitu saja dari ingatan mereka.

Setelah sampai di rumah, dalam keadaan yang lebih memungkinkan biasanya mereka langsung mengolah ilham tersebut, menuliskannya dan jadilah sebuah karya. Kalau ada yang belum sempat atau belum bisa dituangkan akan mereka simpan di “laci ilham.” “Laci ilham” bagi saya adalah sebuah folder khusus ide dan bagi Kuntowijoyo adalah “ibu” dari buku kecil, yaitu “buku besar” yang bisa mencatat ide yang semakin berkembang.

7. Bagaimana menuangkan ilham menjadi sebuah tulisan?
Proses menuangkan ilham menjadi sebuah tulisan antara seorang pengarang dengan pengarang lainnya sering kali berbeda.. Hal tersebut sangat berkaitan dengan wawasan (yang juga merupakan akumulasi dari proses “pengayaan’ pikiran dan jiwa) pengarang itu sendiri. Yang saya maksud dengan wawasan di sini adalah ilmu dan pengetahuan mengenai berbagai hal, termasuk mengenai topik apa yang akan ditulis dan wawasan mengenai teknik mengarang.

8. Bagaimana bila ilham tak kunjung bisa dituangkan?
Diendapkan saja dulu. Yang penting sudah kita catat. Kelak ketika kita buka “laci ilham” pada waktu berikutnya ia akan muncul kembali. Bisa juga bila kita buat kerangka lebih dulu (terutama bagi penulis pemula) sebagai bentuk pengembangan ilham sekaligus pengembangan cerita. Atau mengapa tidak mencari tempat yang nyaman untuk menulis agar ilham yang sudah ada dapat mengalir lebih lancar? Kadang faktor tempat juga bisa sangat menentukan. Tempat yang sunyi dan tenang misalnya, membuat saya lebih lancar menuliskan semua ide saya tinimbang tempat yang ramai dan dipenuhi musik. Tapi bisa jadi sebaliknya bagi pengarang lainnya.

Nah selamat berakrab-akrab dengan ilham!

(HTR)

BAGAIMANA MEMBANGKITKAN MOTIVASI MEMBACA BUKU?


BAGAIMANA MEMBANGKITKAN MOTIVASI MEMBACA BUKU?
Oleh Hernowo

Ada lebih banyak harta yang terkandung di dalam buku ketimbang seluruh jarahan bajak laut yang disimpan di Pulau Harta.

WALT DISNEY

Senin, 24 Mei 2004, pukul 09.30 WIB, usai mengajar sesi pertama matakuliah "Digesting" di STIKOM (Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi), Bandung, saya didekati seorang mahasiswa yang pernah menjadi murid saya pada tahun ajaran lalu. Dia bercerita kepada saya tentang komunitas membaca yang didirikan bersama teman-temannya di STIKOM. Dalam cerita itu terkandung maksud untuk menyampaikan kenyataan bahwa betapa sulitnya mengajak para mahasiswa untuk antusias membaca dan kemudian mendiskusikan buku.

Setelah saya bertanya sedikit tentang komunitas membaca bentukannya tersebut, saya menyampaikan pemikiran saya bahwa sebaiknya komunitas tersebut jangan mendiskusikan buku. Saya menganjurkan untuk mendiskusikan saja secara rutin problem-problem tentang membaca buku yang ada di masyarakat atau, lebih khusus, di lingkungan kampus. Buatlah diskusi yang santai, yang sedikit menyenangkan, bagaikan sedang mengobrol. Dan bicarakan secara luas masalah tersebut dari pelbagai sudut pandang.

Saya katakan pula kepada sang mahasiswa itu bahwa mendiskusikan buku sudah dipersepsi berat dan, bahkan, mungkin, "membebani" oleh beberapa kalangan masyarakat kita. Kita juga mesti sadar bahwa kehidupan masyarakat kita saat ini sudah berat. Ada banyak persoalan negara yang belum juga terselesaikan. Konflik-konflik di tengah masyarakat masih mungkin terjadi. Korupsi juga belum nampak akan tuntas dibereskan dalam waktu dekat. Apalagi masalah yang berkaitan dengan pendidikan.

Jadi, apakah mungkin para mahasiswa itu—dalam keadaan pendidikan yang "runyam" seperti ini—mau dan mampu diajak membaca buku dan mendiskusikannya? "Tapi, Pak, kan membaca buku itu penting dan merupakan ‘nyawa’ pendidikan?" sela sang mahasiswa. "Semua orang tentulah sudah tahu soal yang kamu sampaikan ini," jawab saya kalem. Memang, mustahil penyelenggaraan pendidikan dapat berlangsung lancar dan efektif tanpa buku yang dibaca secara habis-habisan oleh baik dosen maupun mahasiswanya. Namun, apakah kita dapat melihat para dosen, di kampus-kampus, yang membaca buku-buku yang kaya dan luas?

Apakah para dosen, di kampus-kampus kita, benar-benar mencontohkan kepada para mahasiswanya, tentang bagaimana asyiknya mengunjungi perpustakaan dan berjam-jam melibatkan diri dengan buku-buku baru yang datang silih berganti? Apakah para dosen tersebut dapat mendemonstrasikan penguasaannya atas sebuah buku, lantas kemudian mengajak para anak didiknya untuk berdiskusi secara menggairahkan dan menyenangkan tentang buku-buku baru?

Karena sang mahasiswa yang saya ajak bicara hanya diam termangu, saya pun terus mengguyurnya dengan persoalan-persoalan baru seputar membaca buku. Di samping sulitnya kita menemukan dosen di kampus yang dapat kita jadikan teladan membaca buku, kita juga direpotkan dengan buku-buku yang beredar di masyarakat luas, lebih-lebih buku-buku yang beredar di kampus-kampus. Menurut pengamatan saya, tak sedikit buku-buku yang sulit dibaca oleh para pembacanya.

Saya biasa merumuskan buku-buku yang sulit dibaca tersebut sebagai buku yang kekurangan, atau bahkan tak memiliki sama sekali, "gizi". Bahkan, saya juga menemukan buku-buku yang bukan hanya kekurangan "gizi", melainkan juga di dalam buku tersebut berisi racun. Nyawa buku itu terletak pada susunan kalimatnya. Mustahil kita dapat memahami apa yang dikandung oleh sebuah buku apabila kalimat-kalimat yang ada di dalam buku tersebut berantakan atau sulit dicerna.

Bagi saya, buku-buku yang tidak ditulis dengan kaidah penalaran (reasoning) yang sehat dan diksi yang akurat-hebat, serta tanpa koherensi (kaitan) antarparagraf yang mengalir, adalah buku-buku yang dapat meracuni pembacanya. Bagaimana efek racun yang dikandung buku terhadap pembaca? Bisa jadi, seseorang itu lantas ngantuk dan malas membaca buku. Atau, di lain waktu, dia sudah menghabiskan berjam-jam untuk memahami sebuah buku namun dia merasa tidak mampu membaca buku tersebut. Padahal yang salah bukanlah si pembaca, melainkan si pengarang buku yang menyusun bukunya dengan kalimat-kalimat sulit.

"Pak," sela sang mahasiswa agak kesal, "lantas apa yang dapat kita lakukan? Apakah Bapak akan membiarkan itu semua berjalan dan tanpa ada proses perbaikan? Apakah Bapak punya tip-tip untuk mengatasi persoalan lemahnya masyarakat kita membaca buku?" Saya jelas punya cara mengatasi persoalan itu. Bahkan saya sebenarnya yakin bahwa masyarakat kita, terutama para mahasiswa, punya potensi membaca buku. Hanya, mereka tidak tahu saja cara membangkitkan potensi tersebut dan menggunakannya secara efektif.

Berikut tiga contoh saya tentang cara mengatasi persoalan tersebut:

Pertama, sekarang ini telah ditemukan cara-cara membaca yang disesuaikan dengan cara bekerjanya otak kita. Membaca dapat bersuara dan dapat berjalan-jalan. Kenapa bersuara? Karena telinga-lahir dapat membantu mencerna kata-kata. Dan dengan membaca bersuara, kita dapat mendeteksi sebuah kalimat itu disusun dengan benar atau tidak. Kenapa berjalan ketika membaca buku? Ini agar otak tidak beku. Dengan berjalan-jalan, otak pun bergerak dan akan tahan mencerna kalimat yang sulit.

Kedua, ada buku-buku yang beredar di tengah masyarakat yang sudah "dikemas" dengan cara-cara yang berbeda. Misalnya, ada buku yang mengklaim bahwa bukunya dapat merangsang penggunaan otak kiri dan otak kanan sekaligus. Atau ada buku tentang manajemen yang ditulis dengan gaya cerita pendek. Dan ada juga buku setebal 500-an halaman lebih yang dapat dibaca (dipahami) dalam tempo 15 hingga 30 menit!

Ketiga, jalankan kegiatan membaca buku dengan kegiatan menulis secara bersamaan. Apa yang ditulis? Yang ditulis adalah hasil-hasil pembacaan atas sebuah buku. Bagaimana kalau nggak ada yang bisa ditulis? Artinya kegiatan membaca buku tersebut tidak memberdayakan diri si pembaca, atau buku yang dibaca sebenarnya bukan buku yang memiliki "gizi". Dengan menjalankan secara bersamaan kegiatan baca-tulis berbasis buku, insya Allah motivasi untuk membaca buku (dan bahkan menulis) juga dapat terus dipelihara dan ditingkatkan secara perlahan-lahan.

Tentu, masih ada banyak cara untuk mengatasi solusi lemahnya (jika memang ada) minat baca (dan mungkin juga semangat menulis) masyarakat kita. Namun, saya khawatir, semakin banyak cara yang saya sampaikan, semakin bingung kita melaksanakannya. Sebab membaca dan menulis adalah semacam keterampilan (saya lebih suka menyebutnya sebagai "keprigelan"). Untuk memiliki "keprigelan", maka sekadar tahu (to know) saja belum cukup. Kita harus to do (menerapkan secara konkret pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari) dan to be (menjadikan pengetahuan dan keprigelan itu menyatu dengan diri kita).

Nah, untuk dapat mengubah diri kita agar mau dan mampu membaca, tentu pembiasaan menjadi sangat penting. Oleh sebab itu, saya biasa menganjurkan siapa saja untuk memiliki buku harian (diary). Bayangkan jika diary kita itu isinya adalah—selain tentang "curhat"—tulisan-tulisan yang membicarakan materi buku yang kita baca. Tentu, diri kita akan diperkaya dengan ilmu dan juga kita akan memiliki "otot-otot" menulis yang lemas dan siap kita pakai untuk, kelak, menulis paper ataupun skripsi.[]

Ketika Mas Gagah Pergi (cerpen)

Ketika Mas Gagah Pergi

Oleh : Helvi Tyana Rosa

Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!

Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !Mas Gagah juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.

Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku.

Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat. Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelocon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan-makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan Ancol.

Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya.

"Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?"

"Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang rumahku suka membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?!"

"Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?"

Dan banyak lagi lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku Cuma mesem-mesem bangga.

Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum juga punya pacar. Apa jawabnya?

"Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! He..he..he…"Kata Mas Gagah pura-pura serius.

Mas Gagah dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tetapi tidak pernah meninggalkan shalat!

Itulah Mas Gagah!

Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah! Drastis! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana…

"Mas Gagah! Mas! Mas Gagaaaaaahhh!" teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah keras-keras. Tak ada jawaban. Padahal kata Mama, Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa Arab gundul. Tak bisa kubaca. Tetapi aku bisa membaca artinya: Jangan masuk sebelum memberi salam!

"Assalaamu'alaikum!"seruku.

Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah.

"Wa alaikummussalaam warohmatullahi wabarokatuh. Ada apa Gita? Kok teriak-teriak seperti itu?" tanyanya.

"Matiin kasetnya!"kataku sewot.

"Lho memangnya kenapa?"

"Gita kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah! Memangnya kita orang Arab…, masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!" aku cemberut.

"Ini Nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita!"

"Bodo!"

"Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri," kata Mas Gagah sabar. "Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek.., Mama bingung. Jadinya ya dipasang di kamar."

"Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang baru…,eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!"

"Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan…"

"Pokoknya kedengaran!"

"Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus lho!"

"Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!" Aku ngeloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah.

Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu. Ke mana kaset-kaset Scorpion, Wham, Elton John, Queen, Eric Claptonnya?"

"Wah, ini nggak seperti itu Gita! Dengerin Scorpion atau Eric Clapton belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lainlah ya dengan nasyid senandung islami. Gita mau denger? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok!" begitu kata Mas Gagah.

Oala.

Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak Cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma adik kecilnya yang baru kelas dua SMA, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya.

Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Shalat tepat waktu berjamaah di Mesjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip dari lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau membaca buku Islam. Dan kalau aku mampir ke kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya "Ayo dong Gita, lebih feminim. Kalau kamu mau pakai rok, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba adik manis, ngapain sih rambut ditrondolin begitu!"

Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas Gagah juga tidak pernah keberatan kalau aku meminjam baju kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu selalu memanggilku Gito, bukan Gita! Eh sekarang pakai panggil adik manis segala!

Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga Mama menegurnya.

"Penampilanmu kok sekarang lain Gah?"

"Lain gimana Ma?"

"Ya nggak semodis dulu. Nggak dendy lagi. Biasanya kamu kan paling sibuk sama penampilan kamu yang kayak cover boy itu…"

Mas Gagah cuma senyum. "Suka begini Ma. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun."

Ya, dalam pandanganku Mas Gagah kelihatan menjadi lebih kuno, dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. "Jadi mirip Pak Gino." Komentarku menyamakannya dengan supir kami. "Untung aja masih lebih ganteng."

Mas Gagah cuma tertawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu. Mas Gagah lebih pendiam? Itu juga kurasakan. Sekarang Mas Gagah nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama dan bercanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah kebingungan.

Dan..yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan! Kupikir apa sih maunya Mas Gagah?"

"Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau jabatan tangan sama Tresye? Dia tuh cewek paling beken di sanggar Gita tahu?" tegurku suatu hari. "Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang!"

"Justru karena Mas menghargai dia, makanya Mas begitu," dalihnya, lagi-lagi dengan nada yang amat sabar. "Gita lihat kan gaya orang Sunda salaman? Santun tetapi nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!"

Huh, nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu…, sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya?"

Mas Gagah membuka sebuah buku dan menyorongkannya kepadaku."Baca!"

Kubaca keras-keras. "Dari Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah, Rasulullah Saw tidak pernah berjabatan tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhori Muslim."

Mas Gagah tersenyum.

"Tapi Kyai Anwar mau salaman sama Mama. Haji Kari, Haji Toto, Ustadz Ali…," kataku.

"Bukankah Rasulullah qudwatun hasanah? Teladan terbaik?" Kata Mas Gagah sambil mengusap kepalaku. "Coba untuk mengerti ya dik manis?"

Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel.

Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik. Aku jadi khawatir, apa dia lagi nuntut ilmu putih? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa orang-orang sok agamis tapi ngawur. Namun akhirnya aku tidak berani menduga demikian. Mas Gagah orangnya cerdas sekali. Jenius malah. Umurnya baru dua puluh satu tahun tetapi sudah tingkat empat di FT-UI. Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya…yaaa akhir-akhir ini dia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.

"Mau kemana Gita?"

"Nonton sama temen-temen." Kataku sambil mengenakan sepatu."Habis Mas Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya."

"Ikut Mas aja yuk!"

"Ke mana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah. Gita kayak orang bego di sana!"

Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu lalu Mas Gagah mengajak aku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tablig akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku diliatin sama cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya aku ke sana dengan memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang tidak bisa disembunyiin. Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa Mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut.

"Assalamualaikum!" terdengar suara beberapa lelaki.

Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman Mas Gagah. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku…, persis kelakuannya Mas Gagah.

"Lewat aja nih, Gita nggak dikenalin?"tanyaku iseng.

Dulu nggak ada teman Mas Gagah yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Gagah bahkan nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan handsome.

Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. "Ssssttt."

Seperti biasa aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal keislaman, diskusi, belajar baca Quran atau bahasa Arab… yaa begitu deh!

"Subhanallah, berarti kakak kamu ihkwan dong!" Seru Tika setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah hampir sebulan berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya.

"Ikhwan?' ulangku. "Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?" Suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin sekolah melirik kami.

"Husy, untuk laki-laki ikhwan dan untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita." Ujar Tika sambil menghirup es kelapa mudanya. "Kamu tahu Hendra atau Isa kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini."

Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Gagah.

"Udah deh Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji. Insya Allah kamu akan tahu menyeluruh tentang agama kita ini. Orang-orang seperti Hendra, Isa atau Mas Gagah bukanlah orang-orang yang error. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya aja yang belum ngerti dan sering salah paham."

Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku ia menjelma begitu dewasa.

"Eh kapan kamu main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap dekat Gita…mesti kita mempunyai pandangan yang berbeda, " ujar Tika tiba-tiba.

"Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah…" kataku jujur. "Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih…"

Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin." Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk, biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan dengan Mbak Ana.

"Mbak Ana?"

"Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amerika malah pakai jilbab. Ajaib. Itulah hidayah.

"Hidayah."

"Nginap ya. Kita ngobrol sampai malam dengan Mbak Ana!"

"Assalaamualaikum, Mas ikhwan.. eh Mas Gagah!" tegurku ramah.

'Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung pulang!" Kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab salamku.

"Dari rumah Tika, teman sekolah, "jawabku pendek. "Lagi ngapain, Mas?"tanyaku sambil mengitari kamarnya. Kuamati beberapa poster, kaligrafi, gambar-gambar pejuang Palestina, Kashmir dan Bosnia. Puisi-puisi sufistik yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu dua rak koleksi buku keislaman…

"Cuma lagi baca!"

"Buku apa?"

"Tumben kamu pingin tahu?"

"Tunjukkin dong, Mas…buku apa sih?"desakku.

"Eiit…eiitt Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.

Kugelitik kakinya. Dia tertawa dan menyerah. "Nih!"serunya memperlihatkan buku yang tengah dibacanya dengan wajah yang setengah memerah.

"Naah yaaaa!"aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku "Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam" itu.

"Maaas…"

"Apa Dik Manis?"

"Gita akhwat bukan sih?"

"Memangnya kenapa?"

"Gita akhwat atau bukan? Ayo jawab…" tanyaku manja.

Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara padaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami umatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu menjadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal-lainnya. Dan untuk pertamakalinya setelah sekian lama, aku kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu.

Mas Gagah dengan semangat terus bicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya.

"Mas kok nangis?"

"Mas sedih karena Allah, Rasul dan Islam kini sering dianggap remeh. Sedih karena umat banyak meninggalkan Quran dan sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara seiman di belahan bumi lainnya sedang digorok lehernya, mengais-ngais makanan di jalan dan tidur beratap langit."

Sesaat kami terdiam. Ah Mas Gagah yang gagah dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli…

"Kok tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?" Tanya Mas Gagah tiba-tiba.

"Gita capek marahan sama Mas Gagah!" ujarku sekenanya.

"Memangnya Gita ngerti yang Mas katakan?"

"Tenang aja. Gita ngerti kok!" kataku jujur. Ya, Mbak Ana juga pernah menerangkan demikian. Aku ngerti deh meskipun tidak begitu mendalam.

Malam itu aku tidur ditemani buku-buku milik Mas Gagah. Kayaknya aku dapat hidayah.

Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi seperti dulu. Meski aktifitas yang kami lakukan bersama kini berbeda dengan yang dulu. Kini tiap Minggu kami ke Sunda Kelapa atau Wali Songo, mendengarkan ceramah umum, atau ke tempat-tempat di mana tablig akbar digelar. Kadang cuma aku dan Mas Gagah. Kadang-kadang, bila sedikit terpaksa, Mama dan Papa juga ikut.

"Apa nggak bosan, Pa…tiap Minggu rutin mengunjungi relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?" tegurku.

Biasanya Papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, "Iya deh, iya!"

Pernah juga Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung, soalnya pengantinnya nggak bersanding tetapi terpisah. Tempat acaranya juga begitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu juga diberi risalah nikah. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tidak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran. Harus Islami dan semacamnya. Ia juga mewanti-wanti agar aku tidak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek.

Aku nyengir kuda.

Tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku, soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan.

"Nyoba pakai jilbab. Git!" pinta Mas Gagah suatu ketika.

"Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol. Lagian belum mau deh jreng.

Mas Gagah tersenyum. "Gita lebih anggun jika pakai jilbab dan lebih dicintai Allah kayak Mama."

Memang sudah beberapa hari ini Mama berjilbab, gara-garanya dinasihati terus sama Mas Gagah, dibeliin buku-buku tentang wanita, juga dikomporin oleh teman-teman pengajian beliau.

"Gita mau tapi nggak sekarang," kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku, prospek masa depan dan semacamnya.

"Itu bukan halangan." Ujar Mas Gagah seolah mengerti jalan pikiranku.

Aku menggelengkan kepala. Heran, Mama yang wanita karier itu cepat sekali terpengaruh dengan Mas Gagah.

"Ini hidayah, Gita." Kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau senyum-senyum.

"Hidayah? Perasaan Gita duluan yang dapat hidayah, baru Mama. Gita pakai rok aja udah hidayah.

"Lho! " Mas Gagah bengong.

Dengan penuh kebanggaan kutatap lekat wajah Mas Gagah. Gimana nggak bangga? Dalam acara studi tentang Islam yang diadakan FTUI untuk umum ini, Mas Gagah menjadi salah satu pembicaranya. Aku yang berada di antara ratusan peserta rasanya ingin berteriak, "Hei itu kan Mas Gagah-ku!"

Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa. Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Gagah fasih mengeluarkan ayat-ayat Quran dan hadits. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung, "Lho Mas Gagah kok bisa sih?" Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yang dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar.

Pada kesempatan itu Mas Gagah berbicara tentang Muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi. "Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana takwa, sebagai identitas Muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam itu sendiri, " kata Mas Gagah.

Mas Gagah terus bicara. Kini tiap katanya kucatat di hati.

Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Tika. Minta diajarkan cara memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Ana senang dan berulang kali mengucap hamdallah.

Aku mau kasih kejutan kepada Mas Gagah. Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Gagah. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapkan tasyakuran ulang tahun ketujuh belasku.

Kubayangkan ia akan terkejut gembira. Memelukku. Apalagi aku ingin Mas Gagah yang memberi ceramah pada acara syukuran yang insya Allah akan mengundang teman-teman dan anak-anak yatim piatu dekat rumah kami.

"Mas ikhwan! Mas Gagah! Maasss! Assalaamualaikum! Kuketuk pintu Mas Gagah dengan riang.

"Mas Gagah belum pulang. "

kata Mama.

"Yaaaaa, kemana sih, Ma??" keluhku.

"Kan diundang ceramah di Bogor. Katanya langsung berangkat dari kampus…"

"Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam Minggu kan suka nginep di rumah temannya, atau di Mesjid. "

"Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah ingat ada janji sama Gita hari ini." Hibur Mama menepis gelisahku.

Kugaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali sama Mas Gagah.

"Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh!" Mama tertawa.

Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Mama.

Sudah lepas Isya' Mas Gagah belum pulang juga.

"Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh.." hibur Mama lagi.

Tetapi detik demi detik menit demi menit berlalu sampai jam sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga.

"Nginap barangkali, Ma." Duga Papa.

Mama menggeleng. "Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa."

Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera pulang dan melihatku memakainya.

"Kriiiinggg!" telpon berdering.

Papa mengangkat telpon,"Hallo. Ya betul. Apa? Gagah?"

"Ada apa, Pa." Tanya Mama cemas.

"Gagah…kecelakaan…Rumah Sakit Islam…" suara Papa lemah.

"Mas Gagaaaaahhhh!!!" Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.

Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Cempaka Putih. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.

Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah. Kaki, tangan dan kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar sebuah truk menghantam mobil yang dikendarai Mas Gagah. Dua teman Mas Gagah tewas seketika sedang Mas Gagah kritis.

Dokter melarang kami masuk ke dalam ruangan.

" Tetapi saya Gita adiknya, Dok! Mas Gagah pasti mau melihat saya pakai jilbab ini." Kataku emosi pada dokter dan suster di depanku.

Mama dengan lebih tenang merangkulku. "Sabar sayang, sabar."

Di pojok ruangan Papa dengan serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas Gagah. Wajah mereka suram.

"Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?" tanyaku. "Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada acara syukuran Gita kan?" Air mataku terus mengalir.

Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding-dinding putih rumah sakit. Dan dari kaca kamar, tubuh yang biasanya gagah dan enerjik itu bahkan tak bergerak.

"Mas Gagah, sembuh ya, Mas…Mas..Gagah, Gita udah menjadi adik Mas yang manis. Mas..Gagah…" bisikku.

Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit. Sekitar ruang ICU kini telah sepi. Tinggal kami dan seorang bapak paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Gagah…Gita, Mama, Papa butuh Mas Gagah…umat juga."

Tak lama Dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami. "Ia sudah sadar dan memanggil nama Papa, Mama dan Gi.."

"Gita…" suaraku serak menahan tangis.

Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya sesuai permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan saya…lukanya terlalu parah." Perkataan terakhir dokter Joko mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!.

"Mas…ini Gita Mas.." sapaku berbisik.

Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.

Kudekatkan wajahku kepadanya. "Gita sudah pakai jilbab, kataku lirih. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya."

Tubuh Mas Gagah bergerak lagi.

"Dzikir…Mas." Suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat tubuh Mas Gagah yang separuhnya memakai perban. Wajah itu begitu tenang.

"Gi..ta…"

Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali.

"Gita di sini, Mas…"

Perlahan kelopak matanya terbuka.

"Aku tersenyum."Gita…udah pakai…jilbab…" kutahan isakku.

Memandangku lembut Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdallah.

"Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas…" ujarku pelan ketika kulihat ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.

Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tidak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah…sesaat kulihat Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali. Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Dokter mengatakan tampaknya Mas Gagah menginginkan kami semua berkumpul.

Kian lama kurasakan tubuh Mas gagah semakin pucat, tetapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia masih bisa mendengar apa yang kami katakan, meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata.

Kuusap setitik lagi air mata yang jatuh. "Sebut nama Allah banyak-banyak…Mas," kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus hidup, tetapi sebagai insan beriman sebagaimana yang juga diajarkan Mas Gagah, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah.

"Laa…ilaaha…illa..llah…Muham…mad Ra..sul …Allah… suara Mas Gagah pelan, namun tak terlalu pelan untuk bisa kami dengar.

Mas Gagah telah kembali kepada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi. Selamat jalan Mas Gagah.

Epilog:

Buat ukhti manis Gita Ayu Pratiwi, Semoga memperoleh umur yang berkah,

Dan jadilah muslimah sejati

Agar Allah selalu besertamu.

Sun sayang,

Mas Ikhwan, eh Mas Gagah!

Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku. Gamis dan jilbab hijau muda, manis sekali. Akh, ternyata Mas Gagah telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris.

Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Aku rindu panggilan dik manis, aku rindu suara nasyid. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Mas Gagah melantunkan kalam Illahi yang selamanya tiada kan kudengar lagi. Hanya wajah para mujahid di dinding kamar yang menatapku. Puisi-puisi sufistik yang seolah bergema d iruangan ini.

Setitik air mataku jatuh lagi.

"Mas, Gita akhwat bukan sih?"

"Ya, insya Allah akhwat!"

"Yang bener?"

"Iya, dik manis!"

"Kalau ikhwan itu harus ada janggutnya, ya?!"

"Kok nanya gitu sih?"

"Lha, Mas Gagah kan ada janggutnya?"

"Ganteng kan?"

"Uuuuu! Eh, Mas, kita kudu jihad ya?" Jihad itu apa sih?"

"Ya always dong, jihad itu…"

Setetes, dua tetes air mataku kian menganak sungai. Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan. Selamat jalan Mas Ikhwan!Selamat jalan Mas Gagah!

sumber :moslemworld.co.id


 

ShoutMix chat widget